Breaking News:

Ekonomi Tidak Pulih Secepat Perkiraan, Yield US Treasury Bukan Lagi Ancaman

Ekonomi Amerika Serikat (AS) diperkirakan tidak pilih secepat perkiraan, sehingga rasio yield US treasury bukan lagi ancaman

Editor: Hendra Gunawan
Dokumen BI
Selain bertemu dengan Ketua Dewan Pengurus Bank Sentral AS atau Chairman of the Federal Reserve, Jerome Powell, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo juga bertemu dengan Yi Gang dari Bank Sentral Tiongkok. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Yanuar Riezqi Yovanda

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Ekonomi Amerika Serikat (AS) diperkirakan tidak pilih secepat perkiraan, sehingga rasio yield US treasury bukan lagi ancaman pasar saham.

Pengamat pasar modal Hans Kwee mengatakan, yield US treasury 10 tahun di awal pekan ini kembali melemah setelah pernyataan Chairman Federal Reserve di depan Komite Jasa Keuangan DPR. 

"Pelaku pasar keuangan dan sebagian ekonom khawatir dalam beberapa pekan ini karena pemulihan ekonomi Amerika seiring surutnya pandemi Covid-19 dan stimulus triliunan dolar dari pemerintah, bisa mendorong kenaikan harga (inflasi)" ujarnya, Minggu (28/3/2021).

Gubernur Bank Sentral Amerika Jerome Powell dijelaskannya mengakui kepada komisi keuangan di DPR AS bahwa skenario itu memang bisa terjadi karena tahun ini ekonomiakan mengalami kenaikan tingkat inflasi, tetapi kenaikan harga tidak akan substansial.

Baca juga: Ekonom Indef: Larangan Mudik Bikin Masyarakat Tidak Belanja, Ekonomi Tidak Mungkin Tumbuh

"Menurut Jerome Powell inflasi bukanlah ancaman bagi perekonomian AS saat ini. Pernyataan Powell ini membuat yield obligasi AS tenor 10 tahun bergerak turun," kata Hans.

Hal ini meredakan ancaman sebelumnya bahwa yield US treasury 10 tahun terlihat naik dari titik tertinggi setelah pengumuman data inflasi.

Indeks harga pengeluaran konsumen pribadi inti hanya naik 0,1 persen secara bulanan sesuai dengan ekspektasi ekonom yang disurvei oleh Dow Jones.

Secara tahunan indeks ini naik 1,4 persen lebih rendah dari perkiraan ekonom di angka 1,5 persen dan akhir pekan ini yield terlihat naik tipis sebesar 6 basis poin menjadi 1,67 persen.

Baca juga: Mendagri Bilang Pandemi Belum Selesai, Jangan Hanya Bicara Pemulihan Ekonomi

Namun, treasury bertenor 10 tahun yang jadi acuan dan dicermati ketat yang berada di 1,67 persen itu mengalami penurunan dari 1,75 persen pada minggu sebelumnya.

"Yield bergerak berlawanan arah dengan harga obligasi sehingga kenaikan yield mengindikasikan pelaku pasar melakukan penjualan obligasi di jangka waktu tersebut. Beberapa ahli strategi memperkirakan US treasury 10 tahun akan bergerak turun di pekan-pekan mendatang karena investor akan mulai menyeimbangkan kembali kepemilikan surat berharga tersebut," pungkas Hans.

Berita terkait

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved