Gejolak Rupiah
Bos Asuransi Astra Ungkap Sektor Paling Rentan Terdampak Suku Bunga Tinggi dan Melemahnya Rupiah
Kenaikan suku bunga berpotensi meningkatkan tekanan inflasi dan memperlemah daya beli masyarakat yang sebenarnya sudah mulai terlihat saat ini.
Ringkasan Berita:
- Asuransi Astra menilai pelemahan rupiah dan kenaikan BI Rate 50 basis poin akan menekan daya beli masyarakat.
- Industri kendaraan bermotor, terutama pembelian secara kredit, disebut sebagai sektor yang paling rentan terdampak.
- Dampak langsung ke Asuransi Astra relatif terbatas karena bisnisnya berfokus di pasar domestik dan didukung manajemen risiko yang kuat.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pelemahan nilai tukar rupiah dan kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia di tengah ketidakpastian ekonomi global diperkirakan akan memberikan tekanan terhadap sejumlah sektor usaha di Indonesia.
Kondisi tersebut berpotensi menekan daya beli masyarakat dan memengaruhi permintaan berbagai produk, termasuk kendaraan bermotor yang menjadi salah satu penopang industri asuransi umum.
President Director Asuransi Astra Maximiliaan Agatisianus mengakui perkembangan ekonomi makro saat ini tidak bisa dilepaskan dari dinamika global yang turut memengaruhi dunia usaha di dalam negeri.
Baca juga: Rupiah Makin Ambruk ke Level Rp17.966, Besok Bakal Tembus Rp18.030 per Dolar AS
"Kalau ditanya perkembangan makro kita yang tidak lepas dari perkembangan global pastinya terdampak. Diawali dengan pelemahan kurs kita. Kemudian Bank Indonesia akhirnya naiknya 50 basis poin. Jadi rasa-rasanya pastinya semua juga langsung ter-impact," tutur Maxi dalam Konferensi Pers di Cilandak, Jakarta Selatan, Rabu (3/6/2026).
Kenaikan suku bunga berpotensi meningkatkan tekanan inflasi dan memperlemah daya beli masyarakat yang sebenarnya sudah mulai terlihat dalam beberapa waktu terakhir.
Sebagai informasi, Bank Indonesia (BI) telah menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen.
Maxi menilai salah satu sektor yang paling rentan terdampak oleh penurunan daya beli adalah industri kendaraan bermotor, khususnya pembelian kendaraan melalui skema kredit.
"Kalau kita tanya apa sih yang paling ter-impak dengan penurunan daya beli. Pastinya salah satunya adalah demand terhadap kendaraan bermotor, yang terutama didorong oleh pembelian secara kredit, itu pasti akan berpengaruh. Which is salah satunya kami adalah ada industri asuransi kendaraan bermotor yang dampaknya inline dengan industri kendaraan bermotor," jelasnya.
Terkait pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, Maximiliaan menyatakan dampak yang dirasakan Asuransi Astra relatif terbatas, karena mayoritas bisnis perusahaan berorientasi pada pasar domestik.
Tercatat, pada perdagangan Rabu (3/6/2026), rupiah turun 127 poin ke level Rp17.966 per dolar Amerika Serikat (AS), dari posisi sebelumnya Rp17.839 per dolar AS.
"Kalau untuk pelemahan kurs sendiri sebenarnya kita lihat memang ujung-ujungnya adalah bisa memperlemah daya beli juga. Untuk beberapa klien kita yang tentunya biaya yang berbasis dengan valas, pasti juga akan ter-impact," ucapnya.
Meski demikian, eksposur portofolio perusahaan terhadap mata uang dolar AS tidak terlalu besar. Selain itu, perusahaan juga menerapkan strategi manajemen risiko yang prudent untuk meminimalkan dampak fluktuasi kurs.
"Kalau untuk Asuransi Astra sendiri bisa dikatakan kami asuransi yang banyak di dalam (domestik) ya, tidak terlalu orientasi ke luar. Paling orientasi kita paling untuk memperkuat risk management kami, kami re-as (re-insurance) dan itu pun sejak peraturan Bank Indonesia transaksi di Indonesia memang diharuskan memakai valuta IDR atau Rupiah," terangnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Konferensi-Pers-Asuransi-Astra-di-Cilandak-Jakarta-Selatan-Rabu-362026.jpg)