Tumbuh Positif Selama Pandemi, Kemenperin Beri Perhatian Khusus Pada IKM Olahan Porang
Porang merupakan tanaman penghasil umbi yang dapat dikonsumsi, anggota marga Amorphophallus.
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Lita Febriani
TRIBUNNEWS.COM - Industri pengolahan porang mengalami pertumbuhan positif dan kian merambah pasar ekspor di tengah tekanan dampak pandemi Covid-19.
Porang merupakan tanaman penghasil umbi yang dapat dikonsumsi, anggota marga Amorphophallus.
Kementerian Perindustrian terus mendorong potensi pengembangan industri pengolahan porang melalui pendampingan pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM) dengan memfasilitasi peningkatan teknologi produksi.
Beberapa waktu lalu, tim Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperin melakukan kunjungan kerja di industri yang telah memproduksi tepung porang, PT Hayumi Agro Indonesia (HAI) di Gresik, Jawa Timur.
Baca juga: Tanaman Porang Jadi Komoditas Unggulan, Ini Manfaat dan Cara Budidaya Porang
"Tepung porang hasil produksi PT HAI ini telah diekspor ke China," tutur Plt. Direktur Jenderal IKMA Kemenperin Reni Yanita, Minggu (22/8/2021).
Baca juga: Presiden Jokowi Dorong Industri Porang Siap Ekspor Produk Olahan
Kapasitas produksi PT HAI mencapai 2 ton per-hari tepung porang, dengan menggunakan bahan baku chip porang sebanyak 3 ton.
Baca juga: Produksi Meningkat, Ekspor Porang RI Tembus 14,8 Ribu Ton di Semester I-2021
Perusahaan yang didirikan sejak tahun 2018 ini mengambil bahan baku porang dari Kabupaten Madiun, Kabupaten Nganjuk, Kabupaten Ponorogo, Kabupaten Jember, Kabupaten Probolinggo dan Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Data konversi atau rendemen porang dari chip porang menjadi tepung porang dengan rendemen 60-70 persen.
Direktur IKM Pangan, Furnitur dan Bahan Bangunan Riefky Yuswandi, mengungkapkan produksi PT HAI saat ini terkendala oleh injeksi teknologi yang belum dimiliki perusahaan untuk pemurnian glukomanan dari umbi porang.
Akibatnya, perusahaan hanya mampu menghasilkan tepung porang dengan kandungan 60-70 persen glukomanan.
Sedangkan kandungan glukomanan yang dimiliki oleh produsen glukomanan di China telah mencapai lebih dari 90 persen.
"Kandungan glukomanan inilah yang bernilai ekonomi tinggi karena dapat dijadikan bahan baku berbagai macam produk," jelas Riefky.
Dalam upaya meningkatkan daya saing guna mendorong pengembangan pasar ekspor, Ditjen IKMA Kemenperin memberikan fasilitasi bimbingan, pendampingan dan sertifikasi HACCP, serta reimburse atas pembelian mesin peralatan melalui program restrukturisasi mesin dan/atau peralatan kepada PT HAI.
Selain itu, PT HAI akan melakukan inovasi dalam pembuatan beras porang dan mi porang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/mujiono-56-petani-porang-dari-desa-durenan.jpg)