Breaking News:

Erick Thohir Inginkan Bursa Indonesia Menjadi Raja di Asia Tenggara

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menginginkan perusahaan-perusahaan pelat merah untuk melantai di pasar modal.

Penulis: Bambang Ismoyo
Editor: Sanusi
/Jeprima
Menteri BUMN Erick Thohir bersama Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki didampingi Direktur Utama BNI Royke Tumilaar saat meninjau langsung lokasi acara BNI Xpora yang bertempat di Gedung Smesco Indonesia, Jakarta Selatan, Jumat (3/9/2021). BNI Xpora merupakan One Stop Solution Hub yang memberikan layanan bagi pelaku UMKM Indonesia? agar dapat Go Productive, Go Digital, & Go Global serta menjadi pusat layanan bagi para pengusaha diaspora Indonesia yang berada di luar negeri. Tribunnews/Jeprima 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Ismoyo

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menginginkan perusahaan-perusahaan pelat merah untuk melantai di pasar modal.

Misi Erick memacu BUMN untuk go public selaras dengan target untuk menempatkan bursa Indonesia menjadi pasar modal terbesar di Asia Tenggara.

Di saat pasar modal di sejumlah negara dunia melambat, bursa Indonesia justru mampu mencatat pertumbuhan positif.

Baca juga: BUMN Didorong Melantai di Bursa untuk Tingkatkan Transparansi

Sejak awal tahun, pasar modal Indonesia mengalami pertumbuhan 2,56 persen.

Erick optimistis, dengan semakin banyaknya BUMN maupun anak usaha BUMN yang melantai di bursa akan semakin membuat bergeliatnya pasar modal di Indonesia.

"Kami dari Kementerian BUMN dengan pihak OJK dan Bursa Efek Indonesia (BEI), ingin menjadi bagian agar bursa Indonesia itu terus meningkat. Kalau perlu jadi nomor 1 di Asia Tenggara,” ucap Erick saat pembukaan perdagangan BEI, Rabu (29/9/2021).

Baca juga: Disinggung Menteri BUMN Ada Dugaan Korupsi, Krakatau Steel: Jadi Perhatian Manajemen

Dalam kesempatan yang sama, Erick mengapresiasi langkah right issue BRI yang dinilai istimewa.

Menurutnya, right issue BRI dilakukan saat market tengah turbulensi akibat tekanan pandemi.

Oleh karena itu, Erick menilai right issue BRI dapat membuat kondisi market lebih bergairah.

"Ini membuktikan kita punya market sangat besar sehingga pertumbuhan ekonomi akan terus berlangsung," ujarnya.

Erick menilai tidak banyak negara memiliki posisi seperti Indonesia yang mempunyai market besar.

Dirinya berharap, hal ini membuka pemikiran pemegang kebijakan publik bahwa market merupakan aset yang mahal, bukan aset sekadar diperdagangkan banyak pihak.

"Market besar ini harus dipastikan untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia," pungkas Erick.

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved