Breaking News:

Krisis Energi di Singapura Kian Menjadi, Penyedia Listrik Bertumbangan

Krisis energi di Singapura kini semakin menjadi, perusahaan pengecer listrik di negeri tetangga itu pun terus bertumbangan.

Editor: Hendra Gunawan
Calvin Teo
Ilustrasi: Jalur hubung antara Malaysia dan Singapura, Johor–Singapore Causeway. 

TRIBUNNEWS.COM, SINGAPURA -- Krisis energi di Singapura kini semakin menjadi, perusahaan pengecer listrik di negeri tetangga itu pun terus bertumbangan.

Krisis energi terjadi secara global, namun paling parah terjadi pada negara-negara pengimpor bahan bakarnya yaitu batu bara.

Saat ini harga batu bara melambung tinggi di atas 200 dolar AS/ton, sehingga pembangkit mengurangi pasokan mulai berkurang.

Singapura menjadi salah satu negara yang mengalami krisis parah.

Perusahaan-perusahaan pengecer listrik di negeri itu pun bertumbangan.

Terakhir, Ohm Energy menjadi pengecer listrik terbaru yang menghentikan operasinya di Singapura, dengan alasan pasar listrik yang bergejolak.

“Selama beberapa bulan terakhir, kami telah melihat pasar listrik yang bergejolak yang telah membuat rencana penetapan harga kami lebih rendah dari Tarif yang Diatur menjadi tidak berkelanjutan,” kata Ohm Energy dalam e-mail kepada pelanggan pada Jumat (15/10).

Rekening listrik pelanggan akan Ohm Energy transfer ke SP Group mulai 20 Oktober.

“Kami saat ini bekerja sama dengan EMA dan SP Group untuk memastikan kelancaran transfer semua pelanggan kami yang ada ke SP Group. Kami ingin meyakinkan Anda bahwa tidak akan ada gangguan pada pasokan listrik Anda,” ujar Ohm Energy, seperti dikutip Channel News Asia.

“Setelah akun Anda ditransfer ke SP Group, Anda akan memiliki opsi untuk tetap menggunakan SP Group Services atau mendekati pengecer listrik lain,” imbuh Ohm Energy.

Halaman
12
Sumber: Kontan
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved