Breaking News:

Kantongi 75 Persen Saham, Bobby Gafur Umar Pengendali Baru Emiten Konstruksi Protech Mitra Perkasa

Protech Mitra Perkasa Tbk (OASA atau Perseroan) memiliki Presiden Direktur baru yakni Bobby Gafur Sulistyo Umar.

Penulis: Reynas Abdila
Editor: Sanusi
ist
Presiden Direktur PT Protech Mitra Perkasa Tbk (OASA atau Perseroan) Bobby Gafur Sulistyo Umar 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Reynas Abdila

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - PT Protech Mitra Perkasa Tbk (OASA) memiliki Presiden Direktur baru yakni Bobby Gafur Sulistyo Umar.

Bobby memiliki 268.950.000 saham mewakili 75 persen dari seluruh saham yang ditempatkan dan disetor penuh dalam OASA.

Ia telah menjadi pengendali baru OASA dan akan melaksanakan penawaran tender wajib sesuai dengan ketentuan POJK No. 9/2018.

Baca juga: Varian Omicron Gerus Kekayaan 10 Miliarder Dunia, dari Elon Musk hingga Warren Buffett

Emiten di bidang jasa konstruksi, telekomunikasi dan energi tersebut menyiapkan belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp30 miliar.

“Seluruhnya dari internal, kami ingin ekspansi ke masa depan. Targetnya, tahun ini kami harapkan dapat tumbuh 20-30 persen dibanding tahun lalu yang terkena dampak Covid-19 sangat berat,” ucap Bobby dalam rilisnya, Minggu (5/12/2021).

Dijelaskan Bobby, OASA yang sejak tahun 2013 telah memperluas cakupan bisnis nya ke sektor telekomunikasi dan beberapa tahun setelah itu juga merambah bisnis energi, termasuk kelistrikan dan energi terbarukan, sebenarnya adalah perusahaan yang berbasis pada manajemen proyek dan konstruksi yang terintegrasi.

Baca juga: Sekelompok Investor Suntik Dana 1 Miliar Dolar AS ke Perusahaan Media Sosial Milik Donald Trump

“Ke depan, kami sudah menetapkan rencana dan akan segera menyusun cetak-biru bisnis kami, dengan tetap mempertahankan dan terus mengembangkan kegiatan usaha di bidang- bidang konstruksi barang elektrikal, telekomunikasi dan juga tetap menjadi pemasok utama di sektor energi migas,” jelas Bobby.

Pandemi COVID-19 pada kenyataannya telah memorakporandakan bisnis dan industri jasa konstruksi.

“Kita juga terkena dampaknya karena terjadi penurunan pasokan produk ke proyek konstruksi bangunan serta infrastruktur,” ujarnya.

Manajemen Perseroan melihat ekspansi jasa konstruksi sebagai sesuatu yang sangat laik, karena industri jasa konstruksi merupakan sektor prioritas dalam pembangunan nasional berkelanjutan yang dalam dua tahun terakhir.

Berdasarkan laporan keuangan perusahaan dari Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 22 Juli 2021 lalu, Perseroan mencatat pendapatan bersih yang melesat hingga 192,83 persen menjadi Rp 3,18 miliar, sementara pada semeter I-2020 membukukan hanya Rp 1,08 miliar.

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved