Rabu, 20 Mei 2026

Konflik Rusia Vs Ukraina

Perang Rusia-Ukraina Bikin Bank Indonesia Atur Ulang Kebijakan

Munculnya perang Rusia-Ukraina membuat sejumlah negara, termasuk Indonesia mengatur ulang kebijakan

Tayang:
Editor: Sanusi
ist
Gubernur BI Perry Warjiyo. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Seno Tri Sulistiyono

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Munculnya perang Rusia-Ukraina membuat sejumlah negara, termasuk Indonesia mengatur ulang kebijakan dalam menyikapi dampaknya terhadap perekonomian global.

"Banyak negara harus mengkalibrasi ulang kebijakan dalam merespon penurunan pertumbuhan ekonomi global, naiknya harga-harga akibat inflasi, dan tentu juga persepsi risiko dalam pasar keuangan global, termasuk Indonesia," kata Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo secara virtual, Senin (21/3/2022).

Baca juga: Warga Rusia Terkena Imbas Sanksi Ekonomi, Inflasi Melonjak hingga Tingginya Angka Pengangguran

Perry menjelaskan, ada tiga tantangan dari ketegangan geopolitik Rusia-Ukraina yang berpengaruh terhadap pemulihan ekonomi global.

Pertama, kenaikan harga-harga komoditas global, tidak hanya sektor energi tetapi juga sektor pangan yang mengakibkan kenaikan inflasi dari berbagai negara.

Baca juga: Invasi Rusia ke Ukraina Ganggu Pasokan Gandum, Wilayah Timur Tengah Dibayangi Krisis Pangan

"Bagi kita yang eksportir komoditas ada dampak positifnya. Tapi ada dampak negatifnya, bagaimana harga komoditas global berdampak terdampak pada harga-harga di dalam negeri," papar Perry.

Aspek kedua, kata Perry, kegaduhan dalam mata rantai perdagangan global, di mana hal ini juga berpengaruh pada rantai distribusi pasokan, juga volume perdagangan global.

"Tentu saja berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi global, yang berisiko lebih rendah dari perkiraan 4,4 persen karena menurunnya volume perdagangan global," ujar Perry.

Tantangan ketiga yaitu jalur keuangan, karena banyak di pasar global kembali memegang safe haven aset, yang tentu saja berisiko rendah.

"Termasuk juga cash (pegang uang tunai), dan mereka menarik aliran modalnya ke negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, dan bisa berdampak terhadap stabilitas eksternal dan nilai tukar," tutur Perry.

Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved