Gejolak Rupiah

Rupiah Diprediksi Kembali Melemah, Analis: Kalau ke Level Rp 15.000 Masih Jauh

Meski diprediksi melemah, nilai mata uang Garuda tidak akan mencapai ke level Rp 15.000 per dolar AS.

Penulis: Bambang Ismoyo
Editor: Sanusi
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Meski diprediksi melemah, nilai mata uang Garuda tidak akan mencapai ke level Rp 15.000 per dolar AS. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Ismoyo

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi masih akan melemah pada pekan depan.

Pengamat Pasar Uang dan Komoditas sekaligus Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan, hal tersebut bakal terjadi seiring kuatnya tekanan sentimen negatif dari faktor eksternal.

Meski diprediksi melemah, lanjut Ibrahim, nilai mata uang Garuda tidak akan mencapai ke level Rp 15.000 per dolar AS.

“Rupiah sendiri terlihat akan masih melemah, tapi untuk mendekati level Rp15.000 masih berat sekali,” ucap Ibrahim saat dihubungi Tribunnews, Minggu (26/6/2022).

Baca juga: Rupiah Bisa Tembus Rp 15.000 Per Dolar AS Jelang Kenaikan Suku Bunga The Fed Berikutnya

“Tidak mencapi Rp 15.000 karena Pemerintah dan Bank Indonesia masih terus melakukan intervensi di pasar (Domestic Non Deliverable Forward) DNDF kemudian juga masih melakukan lelang obligasi yang cukup bagus,” sambungnya.

Pada perdagangan Jumat (24/6/2022), rupiah melemah tipis ke posisi Rp 14.846 dari penutupan hari sebelumnya Rp 14.835 per dolar AS.

Sebelumnya, Pemerintah melalui Kementerian Keuangan mengungkapkan, pelemahan nilai tukar rupiah dan keluarnya aliran modal asing dari pasar keuangan Indonesia tidak sebesar negara-negara lain.

Baca juga: Sentimen The Fed Masih Jadi Penekan Laju Rupiah Melemah

Adapun pelemahan nilai tukar rupiah dan keluarnya aliran modal asing (capital outflow) terjadi imbas pengetatan moneter yang dilakukan bank sentral AS, The Fed.

Teranyar pada Juni 2022, The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 75 bps demi meredakan inflasi yang mengganas di AS, yang sudah tembus 8,6 persen.

“Arus modal asing banyak yang keluar, tapi keluarnya sangat wajar,” ungkap Ibrahim.

“Karena penguatan indeks dolar, kemudian spekulasi kenaikan suku bunga di berbagai negara menjadi momok rupiah melemah, tapi melemahnya tidak terlalu besar dibandingkan negara lain,” pungkasnya.

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved