Target Setoran Dividen BUMN 2022-2024 Dinilai Masih Realistis

target dividen Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yang dipatok Menteri BUMN Erick Thohir dinilai masih realistis.

Editor: Sanusi
Ist
Menteri BUMN Erick Thohir optimistis dividen yang bisa diberikan BUMN di tahun buku 2022 bisa mencapai Rp 39,7 triliun. Target di tahun 2023 dan 2024 juga akan terus meningkat menjadi Rp 43 triliun dan Rp 50 triliun. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Dennis Destryawan

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Head of Research Jarvis Asset Management Andri Ngaserin menyatakan, target dividen Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yang dipatok Menteri BUMN Erick Thohir masih realistis.

Ia menyatakan kontribusi BUMN ke APBN signifikan, baik dalam bentuk kontribusi ke kas negara maupun membantu pemerintah dan masyarakat dalam hadapi tanggap darurat Covid-19 yang lalu.

Menteri BUMN Erick Thohir optimistis dividen yang bisa diberikan BUMN di tahun buku 2022 bisa mencapai Rp 39,7 triliun. Target di tahun 2023 dan 2024 juga akan terus meningkat menjadi Rp 43 triliun dan Rp 50 triliun.

Baca juga: Tak Ingin Jadi Beban, BUMN Ditarget Beri Dividen Rp 50 Triliun ke Negara pada 2024

Target dividen yang dipatok Menteri Erick dinilai Andri masih mungkin dicapai. Kenaikan berbagai harga komoditas sumberdaya alam (SDA) tentunya akan memberikan berkah tersendiri bagi BUMN seperti PTBA, ANTM, Inalum, PT Pupuk Indonesia dan PTPN.

"BUMN sektor perbankan dan telekomunikasi masih akan dapat memberikan kontribusi positif terhadap APBN," ujar Andri saat dikonfirmasi, Selasa (5/7/2022).

Menurut Andri, memang ada BUMN yang memiliki tantangan tersendiri seperti PLN dan Pertamina. Namun dengan adanya jaminan APBN dari Pemerintah, perusahaan tersebut masih akan dapat memberikan kontribusi positif terhadap perekonomian Nasional.

Baca juga: Emiten Produsen Makanan Beku Ini Bagikan Dividen Rp 6,05 Miliar

"Memang saat ini BUMN dituntut konservatif dalam melakukan ekspansi usahanya. Tujuannya agar dapat menjaga cashflow," ucap Andri.

Langkah penyelamatan BUMN 'sakit' oleh Menteri Erick seperti PT Garuda Indonesia Tbk. dan PT Waskita Beton Precast Tbk. (WSBP) dinilai Andri sebagai langkah yang tepat. Sebab Garuda dan BUMN Karya memiliki peran strategis dalam mendukung perekonomian Nasional.

Dengan keberhasilan PKPU Garuda, Andri berharap emiten berkode GIAA ini akan dapat beroperasi normal. Dengan disetujuinya PKPU diharapkan hutang BUMN aviasi ini dapat direstrukturisasi.

Apalagi Pemerintah akan menguncurkan PMN sebesar Rp 7,5 triliun untuk mendukung operasional Garuda. Dengan keberhasilan PKPU yang dilakukan Menteri Menteri Erick dan kucuran PMN dipercaya Andri akan mampu memulihkan kinerja perseroan.

Sedangkan untuk Waskita Beton Precast Andri berharap Menteri Erick dan jajaran Waskita dapat juga segera mengupayakan konversi hutang ke saham perseroan, pengurangan bunga dan memperpanjang tenor hutang yang dimiliki oleh perseroan.

"Tujuannya agar perseroan dapat kembali melanjutkan proyek strategis nasional yang saat ini tengah mereka embang. Proyek strategis Nasional yang tengah dikerjakan perseroan diantaranya adalah membangun jalan tol dan pelabuhan," terangnya.

Diketahui, kontribusi BUMN terus mengalami peningkatan. Sepanjang 10 tahun terakhir ini sumbangan yang diberikan BUMN mencapai Rp 4.013 triliun.

Jumlah tersebut berasal dari Rp 2.118 triliun pajak, Rp 1.466 triliun dalam bentuk PNBP, dan Rp Rp 429 triliun dividen. Di tahun buku 2021, BUMN memberikan dividen mencapai Rp 41 triliun.

  • KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved