Nilai Tukar Rupiah
Kamis Sore, Rupiah Perkasa di Level Rp 14.986 Per Dolar AS
Melansir data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia, tercatat nilai tukar Rupiah saat ini di level Rp 14.986 per dolar AS.
Menurutnya, rupiah bergerak melemah di awal sesi tetapi pada sesi kedua nilai tukar rupiah mampu memangkas pelemahannya, sehingga hanya melemah 0,06 persen ke level 14.997 per dolar AS di akhir sesi.
"Kami perkirakan pelemahan nilai tukar masih cenderung bersifat jangka menengah, sehingga diperkirakan pada bulan Agustus mendatang, rupiah akan mulai menguat secara gradual karena proyeksi kebijakan yang less hawkish dari Fed pasca mulainya perlambatan ekonomi AS," paparnya.
Ia menyebut, rupiah diperkirakan mampu memangkas pelemahannya di akhir tahun, terutama akibat dimulainya peningkatan suku bunga BI.
"Rupiah diperkirakan bergerak di kisaran 14.550-14.750 di akhir tahun. Sementara pada hari Kamis, rupiah diperkirakan bergerak di kisaran 14.950-15.050 per dolar AS," ucapnya.
Indonesia Harus Waspada Lonjakan Harga Pangan Impor
Nilai tukar atau kurs rupiah mengalami pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di pasar spot, bahkan sempat menembus level Rp 15.000 per dolar AS pada Rabu (6/7/2022).
Ekonom Institute for Development of Economics (INDEF) Rusli Abdullah meminta pemerintah untuk mewaspadai lonjakan harga pangan impor.
"Yang paling saya khawatirkan adalah lonjakan harga pangan yang masih impor," ujar Rusli saat dihubungi, Rabu (6/7/2022).
Selama pandemi Covid-19, ucap Rusli, Indonesia belum terkendala dengan harga pangan pokok atau sumber karbohidrat. Namun, saat ini hal-hal tersebut perlu mulai diwaspadai.
"Pasokan tidak terkendala, sebelum ada invasi Rusia-Ukraina. Harga input produksi pupuk masih belum melambung," katanya.
Saat ini, rupiah masih dibayangi sentimen negatif yang berasal dari sisi eksternal, salah satunya risiko kenaikan suku bunga acuan The Federal Reserve (The Fed). Perlu atau tidaknya Bank Indonesia (BI) menaikan suku bunga acuan bergantung pada pengumuman Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) The Fed.
"Perlu atau tidaknya, BI akan liat pasca FOMC The Fed umumkan tingkat rate terbaru, naik atau tidaknya The Fed," tutur Rusli.
Sementara, Ekonom Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira mengatakan tekanan pada nilai tukar rupiah ini baru permulaan dari serangkaian tekanan global terhadap perekonomian Indonesia.
"Pelemahan nilai tukar rupiah baru permulaan, tekanan berikutnya terjadi saat kenaikan Fed rate," ujar Bhima.
Ia menjelaskan, saat ini kondisi pasar uang dunia tengah khawatir akibat adanya sinyal resesi ekonomi global. Salah satunya, proyeksi Citigroup yang menyatakan risiko dunia mengalami resesi kini sebesar 50 persen dalam 18 bulan ke depan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/nilai-tukar-rupiah-menguat_20211014_174650.jpg)