APBN Kuartal I 2022 Surplus Rp 73,6 Triliun, Komisi XI: Tidak Perlu Euforia

APBN surplus, Anggota Komisi XI DPR RI Kamrussamad mengingatkan Menteri keuangan Sri Mulyani tak perlu euforia

Editor: Sanusi
istimewa
Anggota Komisi XI DPR RI Kamrussamad mengingatkan Menteri keuangan Sri Mulyani tak perlu euforia dikarenakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) kuartal I 2022 mengalami surplus. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Dennis Destryawan

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Anggota Komisi XI DPR RI Kamrussamad mengingatkan Menteri keuangan Sri Mulyani tak perlu euforia dikarenakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) kuartal I 2022 mengalami surplus.

Kamrussamad mewanti-wanti tekanan fiskal yang akan dihadapi seiring ancaman inflasi global, tren kenaikan harga minyak dunia dan tren kenaikan harga makanan akibat ancaman krisis pangan.

"APBN kuartal I memang surplus Rp 73,6 triliun. Ini didorong oleh kenaikan penerimaan pajak, cukai, dan PNBP. Tapi, kondisi surplus ini juga karena memang penyerapan belanja pemerintah masih rendah. Artinya, ini juga menandakan perputaran APBN di ekonomi domestik masih minim," ujar Kamrussamad dalam keterangannya, Kamis (28/7/2022).

Baca juga: Sri Mulyani Ungkap Realisasi APBN Surplus Rp 73,6 Triliun di Semester I 2022

Ia menambahkan, di kuartal akhir, penyerapan akan tinggi, karena proses birokratis anggaran siklusnya demikian. Namun, menurut Kamrussamad, yang lebih penting adalah pemerintah perlu antisipasi kenaikan subsidi akibat ancaman inflasi dan kenaikan harga minyak dunia yang trennya meningkat.

"Pada perdagangan Selasa kemarin, misalnya, harga minyak dunia naik kembali dua dollar. Realisasi penyaluran BBM bersubsidi jenis Pertalite dan Solar juga sudah melampaui 50 persen dari kuota sejak awal tahun sampai 20 Juni 2022. Kalau begini, tekanan fiskal di kuartal mendatang sudah di depan mata," kata Kamrussamad.

Baca juga: APBN Tunjukkan Kinerja Baik, Pemerintah Yakin Penanggulangan Ekonomi dalam Kendali

Saat ini, lanjut dia, anggaran belanja subsidi tadinya adalah Rp 207 triliun, namun dikarenakan konsumsi energi yang meningkat, maka subsidi bisa mencapai Rp 284,6 triliun bahkan lebih. Jika harga minyak terus naik maka akan berdampak pada subsidi yang disalurkan pemerintah.

"Belum lagi dengan ancaman krisis pangan. Tren kenaikan harga pangan akan berlanjut dipengaruhi tren tingginya harga pupuk, gangguan rantai pasok akibat perang di Ukraina. Jadi, tidak perlu euforia kalau saat ini APBN surplus," imbuh Kamrussamad.

Luar Biasa

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati melaporkan APBN surplus sebesar Rp 73,6 triliun pada semester I-2022. Besaran surplus itu setara dengan 0,39 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.

Halaman
12
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved