Pertumbuhan Ekonomi Global Direvisi Menyusut, Ekonom Sebut Indonesia Mampu Tembus di Atas 5 Persen

Mulai dari adanya konflik geopolitik, varian baru Covid-19, hingga melonjaknya inflasi di berbagai belahan dunia.

Penulis: Bambang Ismoyo
Editor: Hendra Gunawan
Tribunnews/fin
llustrasi - Panen padi di areal persawahan Desa Doko, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri. Pertanian menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia, yang dinilai masih mampu bertahan terhadap sentimen ketidakpastian global. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Ismoyo

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Dana Moneter Internasional (IMF) telah memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global tahun ini menjadi 3,2 persen, atau turun 0,4 persen dari proyeksi yang dirilis pada April 2022 lalu.

Perkiraan itu dipengaruhi meningkatnya ketidakpastian global.

Chief Economist and Investment Strategist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI), Katarina Setiawan mengungkapkan, terdapat sejumlah faktor yang mempengaruhi ekonomi global.

Mulai dari adanya konflik geopolitik, varian baru Covid-19, hingga melonjaknya inflasi di berbagai belahan dunia.

Baca juga: Ini Kata Ekonom Penyebab Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,44 Persen

"Berbagai lembaga seperti IMF atau World Bank itu sudah merevisi. Kita melihat ada penurunan-penurunan proyeksi ekonomi di tahun 2022," ucap Katarina dalam Webinar Economic Outlook, Selasa (9/8/2022).

"Misal pada Januari lalu pertumbuhan perekonomian dunia 2022 diperkirakan tumbuh 4,4 persen. Kemudian pada Maret turun jadi 4 persen. Juni perkiraannya turun lagi lagi 3,2 persen," sambungnya.

Katarina kembali mengatakan, pola pertumbuhan ekonomi dunia sama dengan apa yang terjadi di negara-negara besar seperti Amerika Serikat, kawasan Eropa, hingga China.

Ia mengungkapkan, faktor-faktor yang membuat tertahannya laju pertumbuhan ekonomi di setiap kawasan berbeda-beda.

Di Amerika Serikat, turunnya pertumbuhan ekonomi disebabkan oleh inflasi dan juga stimulus fiskal yang dikurangi. Sementara faktor yang mempengaruhi Eropa ialah inflasi tinggi dan adanya krisis energi.

Dan kemudian di China, penyebab utama turunnya pertumbuhan ekonomi disebabkan adanya aturan terkait pandemi Covid-19. Hal ini menyebabkan adanya lockdown atau pembatasan mobilitas yang menyebabkan kontraksi tajam dari aktivitas perekonomian.

Bagaimana dengan Indonesia?

Katarina melanjutkan, untuk Indonesia sendiri dinilai masih mampu bertahan terhadap sentimen ketidakpastian global.

Hal tersebut terlihat dari proyeksi ekonomi Indonesia pada 2022 yang tidak mengalami revisi oleh sejumlah lembaga-lembaga internasional.

Baca juga: Kinerja Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,44 Persen di Triwulan II 2022, Erick Thohir Pamer Kontribusi BUMN

Ditambah lagi, bukti nyata Indonesia bertahan dari terpaan sentimen negatif global terlihat dari kinerja pertumbuhan ekonomi di triwulan II-2022 yang tumbuh 5,4 persen.

"Pertumbuhan perekonomian Indonesia tidak direvisi turun. Dari Januari hingga Juni perkiraannya tetap sama kisaran 5,2 persen," ucap Katarina.

"Pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) di kuartal II-2022 cukup bagus. Bahkan di atas perkiraan pasar, yakni 5,44 persen. Jadi Indonesia menunjukkan anomali dibandingkan negara-negara maju," lanjutnya.

Faktor-faktor yang menunjukkan ekonomi Indonesia bangkit terlihat dari membaiknya data konsumsi domestik, keyakinan konsumen dan penjualan ritel, menurunnya tingkat pengangguran, serta meningkatnya kinerja penyaluran kredit.

Dengan demikian, Manulife Aset Manajemen Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia mampu tembus di rentang 5 hingga 5,4 persen pada 2022.

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved