Gejolak Rupiah

Awal Oktober, Rupiah Masih Diproyeksi Melemah Terhadap Dolar AS, Bisa Tembus Rp 15.270

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Senin (3/10/2022) masih berpotensi mengalami pelemahan.

Penulis: Bambang Ismoyo
Editor: Sanusi
Tribunnews/JEPRIMA
Petugas menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Masagung Money Changer, Jakarta Pusat. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Senin (3/10/2022) masih berpotensi melemah. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Ismoyo

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Senin (3/10/2022) masih berpotensi melemah.

Fluktuasi mata uang Garuda masih terpengaruh sejumlah sentimen eksternal maupun internal.

Pengamat Pasar Keuangan Ibrahim Assuaibi mengatakan, pelemahan rupiah terdampak sentimen the Fed yang menaikkan suku bunga untuk melawan inflasi di AS.

Baca juga: Rupiah Melemah Rp15.000 Per Dolar AS, Begini Tanggapan Jokowi, Menkeu Hingga Pengamat

Pelemahan rupiah telah terjadi sejak beberapa hari yang lalu. Namun pada akhir pekan kemarin (30/9/2022), mata uang rupiah ditutup menguat 35 point walaupun sebelumnya sempat menguat 40 point di level Rp 15.227 dari penutupan sebelumnya di level Rp 15.263.

"Pada akhir pekan kemarin dolar AS melemah di awal perdagangan pada hari Jumat karena dibantu oleh intervensi Bank of England dan ekspektasi pengetatan agresif oleh Bank Sentral Eropa serta Bank Sentral Amerika," ucap Ibrahim dalam keterangan tertulis yang diperoleh Tribunnews, (1/10/2022).

Menguatnya dolar AS juga terpengaruh sentimen dunia yang saat ini berada pada ketidakpastian yang tinggi karena berbagai masalah yang menimpanya, mulai dari pandemi yang belum usai hingga perang di Ukraina yang diperkirakan akan berlangsung panjang.

Oleh karena itu, lanjut Ibrahim, pemangku kepentingan harus menekankan pentingnya Indonesia memiliki ketahanan yang panjang.

Baca juga: Dampak Resesi Ekonomi Global Terhadap Indonesia, Neraca Perdagangan Defisit hingga Inflasi Meningkat

Terkait situasi tersebut, Presiden Joko Widodo pun mengingatkan kepada Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani untuk berhati-hati dalam mengelola Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Presiden meminta agar APBN digunakan untuk hal yang produktif dan memberikan imbal hasil yang jelas.

Selain itu, saat ini semua negara juga tengah menyelesaikan masalah inflasi yang menyebabkan kenaikan harga barang dan jasa.

Presiden Joko Widodo memandang bahwa inflasi Indonesia sendiri masih cukup terkendali di angka 4,6 persen yang dinilainya masih lebih baik dibandingkan negara-negara lain.

Kemudian Bank Indonesia dalam tahun ini, kemungkinan akan menaikan suku bunga acuan sebesar 5 persen.

Masih ada 75 bps lagi suku bunga yang masih dalam rencana. Oleh karena itu, BI dalam menaikan suku bunga acuan harus mengikuti ekspektasi para analis agar pasar bisa merespon dengan positif.

Pernyataan Presiden Joko Widodo (Jokowi Effec) membuat pasar Kembali tenang dan ini manfaatkan oleh para sepekulan untuk menjulan dolar sehingga rupiah di akhir pekan Kembali menguat tajam.

Meski demikian, nilai tukar mata uang Garuda diprediksi masih dapat melemah ke level Rp 15.270.

"Sedangkan untuk perdagangan senen depan, mata uang rupiah kemungkinan dibuka berfluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 15.210 hingga Rp 15.270," pungkasnya.

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved