Oktober 2022, Inflasi Amerika Serikat Mencapai 7,7 Persen
Salah satu yang membantu mendorong perlambatan inflasi dari September hingga Oktober adalah harga mobil bekas.
Laporan Wartawan Tribunnews, Nur Febriana Trinugraheni
TRIBUNNEWS.COM, WASHINGTON - Amerika Serikat dan Federal Reserve (The Fed) mendapat beberapa kabar baik pada Kamis (10/11/2022) mengenai data inflasi Oktober.
Indeks harga konsumen (CPI) AS pada Oktober mencapai 7,7 persen, laju kenaikan yang lebih lambat dari yang diperkirakan para ekonom sebesar 8 persen dan angka inflasi tahunan terendah sejak Januari.
Sementara inflasi inti, yang tidak termasuk harga makanan dan energi, naik 6,3 persen dalam 12 bulan terakhir dan 0,3 persen dari September.
Salah satu yang membantu mendorong perlambatan inflasi dari September hingga Oktober adalah harga mobil bekas, yang turun selama empat bulan berturut-turut. Selain itu, harga pakaian dan perawatan medis juga mengalami penurunan.
Baca juga: Buntut Inflasi Amerika Serikat, IMF Desak Bank-bank Sentral Asia Perketat Kebijakan Moneter
Kenaikan harga pangan melambat. Sebaliknya, harga energi rebound pada Oktober setelah turun pada Agustus dan September.
Bahkan dengan penurunan inflasi pada bulan lalu, The Fed secara luas diperkirakan akan terus menaikkan suku bunga untuk membendung kenaikan harga yang terus-menerus tinggi.
Namun data inflasi Oktober yang lebih baik dari perkiraan, meningkatkan kemungkinan bahwa The Fed dapat memperlambat kenaikan suku bunganya, prospek yang membuat harga saham melonjak segera setelah rilisnya data inflasi AS pada Oktober.
"Kami berharap ini menandai awal dari tren disinflasi yang lebih lama yang kami pikir akan meyakinkan The Fed untuk menghentikan [kenaikan] awal tahun depan. Dengan normalisasi kekurangan pasokan, tekanan deflasi sekarang akhirnya muncul,” kata kepala ekonom Amerika Utara di perusahaan konsultasi Capital Economics, Paul Ashworth, yang dikutip dari Al Jazeera.
Ketakutan Resesi
Banyak ekonom telah memperingatkan bahwa upaya memperketat kebijakan moneter terus-menerus oleh bank sentral kemungkinan akan menyebabkan resesi di tahun depan.
Sejauh tahun ini, The Fed telah menaikkan suku bunga acuannya enam kali peningkatan yang cukup besar, meningkatkan risiko bahwa suku bunga pinjaman yang sangat tinggi, untuk hipotek, pembelian mobil, dan biaya tinggi lainnya, akan mengarahkan ekonomi terbesar dunia ini ke dalam resesi.
Beberapa ekonom mengatakan data inflasi terbaru menunjukkan kenaikan suku bunga The Fed mulai mencapai tujuan mereka untuk meredam inflasi, meskipun The Fed perlu melihat bukti lebih lanjut.
"Data tersebut akan menjadi berita sambutan untuk [Fed] yang akhirnya menunjukkan beberapa respons dalam harga terhadap kenaikan suku bunga," kata kepala ekonom AS di High Frequency Economics, Rubeela Farooqi.
Baca juga: Bursa Saham Asia-Pasifik Jatuh Menjelang Pengumuman Data Inflasi AS
Dalam pemilihan paruh waktu yang berakhir pada Selasa (9/11/2022), kira-kira setengah dari pemilih menyebut inflasi sebagai faktor utama yang mempengaruhi keputusan mereka memberikan suara dalam pemilihan tersebut, menurut VoteCast, sebuah survei ekstensif yang dilakukan terhadap lebih dari 94.000 pemilih di AS yang dilakukan untuk The Associated Press oleh National Opinion Research Center (NORC) di Universitas Chicago.
Sekitar 8 dari 10 orang mengatakan ekonomi dalam kondisi buruk, dan mayoritas tipis menyalahkan kebijakan Presiden Joe Biden karena telah memperburuk inflasi. Hanya kurang dari setengah yang mengatakan faktor-faktor di luar kendali Biden, seperti invasi Rusia ke Ukraina, yang harus disalahkan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/tips-beli-mobil-bekas-sesuai-budget-beli-di-olx-autos-bisa-dicicil-mulai-rp-1-juta-an.jpg)