Geopolitik Memanas, Kemandirian Energi Tentukan Daya Tawar Indonesia
isu energi saat ini tidak lagi sebatas fluktuasi harga, melainkan juga terkait kontrol sumber daya dan daya tahan ekonomi nasional
Ringkasan Berita:
- PLN Watch menilai percepatan transisi ke Energi Baru Terbarukan (EBT) menjadi kunci memperkuat ketahanan energi di tengah gejolak geopolitik global.
- Pengembangan PLTS, BESS, serta pemanfaatan sawit dan biomassa dipandang sebagai strategi konkret menuju kemandirian energi.
- Reformasi sektor energi perlu dipercepat agar Indonesia tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga produsen energi bersih.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketegangan geopolitik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel dinilai memberi tekanan baru terhadap stabilitas energi global.
Dalam konteks tersebut, penguatan ketahanan energi domestik menjadi agenda strategis yang tidak bisa ditunda oleh Indonesia.
Ketua Umum PLN Watch, KRT Tohom Purba, menilai langkah PT PLN (Persero) dalam meningkatkan efisiensi serta mempercepat transisi ke Energi Baru Terbarukan (EBT) merupakan respons yang relevan terhadap dinamika global yang semakin kompleks.
Menurutnya, isu energi saat ini tidak lagi sebatas fluktuasi harga, melainkan juga terkait kontrol sumber daya dan daya tahan ekonomi nasional.
Baca juga: Ketegangan Geopolitik Dunia Meningkat, Bamsoet Tegaskan KADIN Indonesia Dukung Penuh Pemerintah
“Negara yang mampu mengendalikan energinya sendiri akan memiliki posisi tawar lebih kuat,” ujarnya.
PLTS dan BESS Dorong Transformasi Energi
Untuk percepatan EBT Indonesia, pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) hingga 100 GWp disebut sebagai langkah strategis untuk memperkuat fondasi energi nasional.
Integrasi dengan Battery Energy Storage System (BESS) dinilai krusial dalam menjaga stabilitas pasokan listrik berbasis energi terbarukan.
Tohom menyebut kombinasi teknologi ini sebagai bagian dari kesiapan menghadapi lanskap energi masa depan, bukan sekadar solusi jangka pendek.
Efisiensi Lewat Dedieselisasi dan Co-firing
Langkah lain yang diusulkan dalam percepatan EBT adalah program dedieselisasi yang menggantikan pembangkit berbasis diesel dengan energi terbarukan. Ini dipandang mampu mengurangi ketergantungan impor bahan bakar.
Di sisi lain, co-firing biomassa pada PLTU menjadi pendekatan transisi yang dinilai adaptif, dengan tetap menjaga keseimbangan antara kebutuhan energi dan komitmen lingkungan.
Peran Strategis Sawit
Hal lain untuk percepatan EBT adalah pemanfaatan kelapa sawit sebagai sumber energi domestik yang dinilai memiliki potensi besar.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/PLN-WATCH-soal-geopolitik.jpg)