Senin, 18 Mei 2026

Usai Merugi 3,9 Triliun Dolar AS, Pasar Saham di China Diproyeksikan Rebound pada 2023

Optimisme diserukan para investor setelah pemerintah China mulai memperlonggar kebijakan nol-Covid dengan membuka sebagian besar perbatasan.

Tayang:
IST
Setelah mengalami kemerosotan parah selama 2022 hingga merugi sebesar 3,9 triliun dolar AS, sejumlah saham perusahaan China yang diperdagangkan di pasar global diproyeksikan rebound di sepanjang 2023. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com Namira Yunia Lestanti

TRIBUNNEWS.COM, BEIJING – Setelah mengalami kemerosotan parah selama 2022 hingga merugi sebesar 3,9 triliun dolar AS, sejumlah saham perusahaan China yang diperdagangkan di pasar global diproyeksikan rebound di sepanjang 2023.

Optimisme ini diserukan para investor setelah pemerintah China mulai memperlonggar kebijakan nol-Covid dengan membuka sebagian besar kawasan perbatasan, tindakan tersebut lantas memberikan sinyal positif pada para investor akan adanya pemulihan permintaan pasar.

Kebijakan pembatasan nol-Covid yang diberlakukan pemerintah Xi Jinping, selama tiga tahun terakhir awalnya dimaksudkan untuk menekan laju penyebaran kasus positif Covid-19 di China.

Namun, setelah memberlakukan pengetatan kontrol, aktivitas perdagangan dan pengiriman barang di China terganggu hingga produsen merugi triliun dolar AS.

Baca juga: Presiden Xi Jinping: Pengendalian Covid-19 di China Memasuki Tahap Baru

Ini lantaran selama pengetatan berlangsung tingkat kepercayaan bisnis China terus mengalami penurunan tajam dari level 51,8 menjadi 48,1 persen, kondisi ini kian diperparah dengan adanya perlambatan global yang lebih luas akibat invasi Rusia dan Ukraina.

Munculnya rangkaian tekanan kemudian membuat pergerakan saham di China mengalami penurunan.

Bahkan Bank Dunia terpaksa memangkas proyeksi ekonomi China dari 4,3 persen menjadi 2,7 persen di sepanjang 2022, dikutip dari Bloomberg.

Akan tetapi situasi berbalik, pasca Presiden Xi Jinping mulai memperlonggar kebijakan nol-Covid di negara tirai bambu ini. Usai jutaan masyarakat China menggelar aksi demo besar – besaran pada awal November lalu.

Tak lama dari itu saham China melakukan rebound epik di sepanjang November 2022, meski Desember kemarin sempat mengalami penurunan. Namun para pelaku pasar optimis bahwa di tahun 2023 saham China di bursa Wall Street akan kembali rebound dan mengembalikan kerugian di tahun sebelumnya.

“Waktunya telah tiba, di tahun 2023 saham China menjadi konstruktif dan meningkat, berkinerja lebih baik dari netral. Meskipun rebound telah berkurang pada bulan Desember akibat lonjakan infeksi,” ujar manajer, perusahaan manajemen aset Prancis Amundi SA.

Selain pelonggaran nol-Covid, pulihnya pasar Saham China juga dipengaruhi oleh meredanya konflik antara AS dan China, serta sikap dovish bank sentral.

Rangkaian kebijakan ini yang kemudian membuat saham China dapat bangkit hingga perekonomian China diproyeksikan tumbuh mencapai 4,8 persen pada tahun 2023.

“Pengaturan untuk ekuitas China memasuki tahun 2023 terlihat bagus dengan peluang masih menuju kenaikan lebih lanjut, tetapi saya tidak mengharapkan perjalanan yang mulus,” kata Ng Xin-Yao, manajer investasi ekuitas Asia di abrdn plc.

Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved