Rabu, 6 Mei 2026

Jumat Pagi, Laju Rupiah Bergerak Melemah Hampir Tembus Level Rp15.300 per Dolar AS

Fluktuasi nilai tukar mata uang Garuda masih pada hari ini diprediksi akan terus berlanjut.

Tayang:
KONTAN/Carolus Agus Waluyo
Ilustrasi. Nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di level Rp15.290 pada Jumat pukul 09.27 WIB (3/3/2023). 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Ismoyo

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di level Rp15.290 pada Jumat pukul 09.27 WIB (3/3/2023).

Jika dicermati lebih detail, nilai tukar mata uang Garuda melemah tipis 9 poin.

Di mana sebelumnya pada kemarin (2/3/2023), nilai tukar rupiah di level Rp15.281.

Pengamat Pasar Keuangan, Ibrahim Assuaibi mengatakan, fluktuasi nilai tukar mata uang Garuda masih akan terus berlanjut. Diprediksi untuk hari ini cenderung mengalami pelemahan.

Baca juga: Nilai Tukar Rupiah Merosot di Penghujung Pekan, Kini di Level Rp15.227 per Dolar AS

"Untuk perdagangan besok (hari ini), mata uang rupiah kemungkinan dibuka berfluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp15.270 hingga Rp15.330," ucap Ibrahim dalam analisanya, (2/3/2023).

Dirinya juga menjelaskan, fluktuasi nilai tukar rupiah pada kemarin disebabkan berbagai faktor, baik internal maupun eksternal.

Untuk eksternal, fluktuasi rupiah terdorong sentimen indeks dolar AS yang masih cukup kuat. Serta adanya wacana peningkatan suku bunga oleh sejumlah bank sentral di berbagai negara.

"Dolar menguat terhadap mata uang lainnya pada hari Kamis, karena imbal hasil AS naik sementara investor menunggu data inflasi Eropa, setelah kejutan buruk di Jerman, Prancis dan Spanyol telah memberikan dorongan untuk mata uang lainnya minggu ini," papar Ibrahim.

Sementara untuk faktor internal, pelemahan rupiah yang tidak terjadi terlaly dalam terdorong laporan inflasi Februari 2023 yang menurun dibandingkan inflasi bulan sebelumnya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statisitk (BPS), inflasi IHK pada Februari 2023 menurun dari 0,34 persen (month tomonth/mtm) pada bulan sebelumnya menjadi 0,16 persen (mtm), terutama didorong oleh penurunan inflasi kelompok inti dan volatile food.

Bank Indonesia (BI) memandang, perkembangan ini tidak terlepas dari pengaruh positif respons kebijakan moneter BI serta sinergi erat pengendalian inflasi antara BI dan Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, dan mitra strategis lainnya melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP dan TPID) serta Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) di berbagai daerah.

Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved