Selasa, 26 Mei 2026

Tekan Emisi Karbon, Pengembangan Energi Bersih Berbasis Amonia Digencarkan

Rekind menaruh perhatian besar terhadap pengurangan emisi karbon, di mana saat ini perusahaan konsisten mengkaji pengembangan amonia

Tayang:
HO
Ilustrasi. Carbon capture (penangkapan karbon) kini menjadi metode yang penting untuk mengejar target pengurangan karbon hingga 20 persen yang diperlukan secara global. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pemerintah menggencarkan pengembangan energi bersih sebagai upaya menekan emisi karbon.

Satu di antara energi bersih tersebut yaitu pemanfaatan senyawa amonia, seperti dilakukan PT Rekayasa Industri (Rekind) dalam membangun pabrik amonia dan urea serta pengembangan listrik bersih melalui pembangunan sejumlah Pembangkit Listrik Tenaga Geothermal atau Panas Bumi (PLTP).

"Rekind memiliki peran strategis dalam mendukung program pemerintah untuk melahirkan energi bersih berbasis amonia, terutama ditinjau dari bekal pengalamannya membangun pabrik pupuk, pembangkit listrik tenaga panas bumi dan kemampuannya di bidang removal (pemisahan zat karbon dioksida) yang dikenal memiliki tingkat kesulitan tinggi,” ujar Direktur Utama Rekind, Triyani Utaminingsih ditulis Selasa (10/10/2023).

Menurutnya, Rekind menaruh perhatian besar terhadap pengurangan emisi karbon, di mana saat ini perusahaan konsisten mengkaji pengembangan amonia, terutama melalui Blue Ammonia dan Green Ammonia.

Baca juga: Legislator Nasdem Dukung Langkah PGEO Wujudkan Energi Bersih dan Ramah Lingkungan

Green Ammonia dan Blue Ammonia merupakan amonia yang dihasilkan melalui teknik pemerosesan tertentu yang mampu menekan hingga menghilangkan kandungan karbon, sehingga lebih ramah lingkungan.

Dalam mewujudkan energi berbasis senyawa amonia, kata Yani, Rekind tidak bisa berjalan sendiri tetapi harus ada kolaborasi dengan sejumlah pihak terkait karena lingkup pengerjaan Rekind baru sebatas di hulu atau hilir saja, belum secara keseluruhan.

"Untuk pengembangan Blue Ammonia, Rekind bisa berperan lebih dominan dalam memisahkan CO2," ucapnya

Sementara untuk pengembangan Green Ammonia, Yani menyebut, Rekind bisa berperan lebih menonjol dalam mengembangkan dan membangun PLTP sebagai sumber energi bersih, selain Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu/Angin (PLTB).

Kemampuan Rekind di bidang PLTP dimulai antara tahun 1997-2000. Hingga saat ini total kapasitas seluruh PLTP yang pernah dirancang dan dibangun Rekind mencapai 990,4 megawatt (MW).

Satu megawatt setara dengan 1 juta kilowatt. Sebagai gambaran bagi pelanggan awam, dengan daya sebesar 1 MW, PLN mampu menyediakan listrik untuk 2000 hingga 3000 pelanggan kapasitas 900 KVA dengan coefesien factor 0,5 (atau pemakaian sekitar 500 KVA).

"Secara proses, Green Ammonia berbeda dengan Amonia konvensional (Grey Ammonia). Green ammonia dihasilkan dari elektrolisa air (H2O) menjadi gas Hidrogen (H2) dan Oksigen (O2)," ujarnya.

Baca juga: Pengamat Energi Kritik Kebijakan Bagi-bagi Rice Cooker Gratis di Tahun Politik

Lebih lanjut Ia mengatakan, hasil dari elektrolisa adalah unsur gas Hidrogen, bukan senyawa Amonia (NH3).

Untuk menjadi Amonia, gas Hidrogen perlu direaksikan dengan Nitrogen (N2) dalam suatu alat reaktor kimia. Nitrogen bisa diperoleh dari pemurnian udara.

"Untuk diketahui, udara yang kita hirup sehari-hari mengandung 79 persen gas Nitrogen dan 21% gas Oksigen. Lalu Nitrogen dan Hidrogen ini dikawinkan sehingga menghasilkan amonia," paparnya.

Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved