Kamis, 7 Mei 2026

Kementan Tingkatkan Kemudahan Usaha Bagi Investor Pertanian

Sinergi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat menjadi salah satu kunci keberhasilan dalam meningkatkan kemudahan berusaha.

Tayang:
Penulis: Erik S
HO
Kementerian Pertanian (Kementan) menggelar 1st Agri-Investment Forum and Expo (AIFE) 2023 di Mojokerto, Jawa Timur. 

TRIBUNNEWS.COM, MOJOKERTO- Kementerian Pertanian (Kementan) menggelar 1st Agri-Investment Forum and Expo (AIFE) 2023 di Mojokerto, Jawa Timur. Gelaran ini sesuai dengan komitmen Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman untuk meningkatkan kemudahan usaha bagi investor pertanian.

“Kami terus berupaya menarik minat para investor untuk melakukan investasi di sektor pertanian dengan kemudahan berusaha. Tentunya kami berharap tingkat Ease of Doing Business (EoDB) di Indonesia dapat meningkat dengan kontribusi pertanian,” ungkap Plt. Sekretaris Jenderal Kementan Prihasto Setyanto saat membuka kegiatan secara daring, Kamis (16/11/2023) pagi.

EoDB merupakan survei yang dibuat oleh Bank Dunia (World Bank) untuk mengurutkan peringkat negara-negara berdasarkan tingkat kemudahan berusahanya. Berdasarkan survei terakhir, Indonesia berada pada peringkat 72.

Baca juga: Kejar Target Produksi 1 Juta Ton Jagung, Kementan Manfaatkan 175 Ribu Hektare Lahan Sawit

Sebagai bukti keseriusan menciptakan iklim kemudahan usaha, Kementan turut meluncurkan Aplikasi Perizinan Pertanian pada 1st AIFE 2023. Aplikasi ini akan menjadi pintu masuk pelayanan perizinan di Kementerian Pertanian yang akan memudahkan para pelaku usaha dalam memproses perizinannya serta sudah terintegrasi dengan OSS, INSW, dan aplikasi-aplikasi di Kementan.

Selain peluncuran Aplikasi Perizinan Pertanian, Prihasto memastikan kegiatan 1st AIFE tidak akan hanya menjadi sebatas forum diskusi. AIFE akan menjadi wadah bagi Kementan dan semua stakeholder untuk menyatukan ide, pengalaman, dan upaya guna menciptakan langkah-langkah konkrit dalam akselerasi pelayanan perizinan dan investasi pertanian.

“Kolaborasi dan sinergi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat menjadi salah satu kunci keberhasilan dalam meningkatkan kemudahan berusaha. Pemangku kepentingan yang terlibat harus bersatu padu, saling mendukung, dan bekerja bersama-sama demi menciptakan lingkungan investasi yang kondusif di sektor pertanian,” tegasnya.

Investasi sektor pertanian disebut Prihasto terus meningkat. Berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), kinerja investasi sektor selama tahun 2014-2022 melalui Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) tumbub rata-rata sebesar 17,3 persen per tahun sementara Penanaman Modal Asing (PMA) tumbuh 7,1% per tahun.

Kinerja investasi ini menunjukkan bahwa sektor pertanian mempunyai peluang yang besar dalam meningkatkan investasi mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

“Dengan adanya potensi dan peluang investasi pertanian yang merata hampir di setiap provinsi, serta komoditas-komoditas yang belum termanfaatkan dengan baik, membuka peluang yang luas untuk pertanian semakin dapat dilirik oleh investor,” tutur Prihasto.

Ia pun mendukung inisiasi penyusunan perjanjian kerja sama yang dilakukan oleh Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian (PVTPP) dan stakeholder untuk meningkatkan akselerasi dan sinergi layanan perlindungan, pendaftaran, pelepasan varietas serta pelayanan perizinan.

“Kami menyambut baik respon positif dari para stakeholder dengan perjanjian kerja sama ini untuk peningkatan layanan Kementan,” ujarnya.

Kepala Pusat PVTPP Leli Nuryati Menyebutkan Perjanjian Kerja Sama (PKS) dan Naskah Kesepakatan (NK) dilakukan antara Pusat PVTPP dengan sepuluh mitra Pusat PVTPP yang terdiri dari unsur petani, universitas, dan industri.

“Mereka adalah mitra-mitra kami dalam pelaksanaan perlindungan dan pelepasan varietas, serta perizinan pertanian,” kata Leli.

Kesepuluh mitra itu adalah IPB University, Universitas Bina Nusantara Unggul, Perhimpunan Agronomi Indonesia (PERAGI), Kelompok Tani Andalan (KTNA), Masyarakat Perbenihan dan Perbibitan Indonesia (MPPI), SEAMEO BIOTROP, CropLife, CropCare, Asosiasi Produsen Pestisida Indonesia (APROPI).

“PKS dan NK ini menjadi salah satu strategi meningkatkan pelayanan publik Kementan,” jelas Leli.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved