Minggu, 17 Mei 2026

Pedagang Warteg Keluhkan Harga Beras Masih Tinggi di Pasaran

Pedagang warteg meminta pemerintah fokus untuk menurunkan harga pangan yang disebut membuat mereka menjerit.

Tayang:
Tribunnews/JEPRIMA
Seorang warga saat menikmati makan siang di Warung Tegal (Warteg) Ellya, Cilandak Timur 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Dennis Destryawan

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Pengusaha warteg mengeluhkan harga-harga bahan pokok masih tinggi. Dari beras hingga minyak goreng. Pedagang warteg meminta pemerintah fokus untuk menurunkan harga pangan yang disebut membuat mereka menjerit.

Ketua Koperasi Warteg Nusantara (Kowantara) Mukroni saat berkeliling ke warteg-warteg, mendapat keluhan soal harga-harga, termasuk harga beras. Padahal, harga beras diklaim pemerintah tren harga terus menurun.

"Mereka (pedagang warteg) masih mengeluh dengan harga-harga yang semakin tinggi," ujar Mukroni saat dihubungi Tribunnews, Selasa (12/12/2023).

Baca juga: Update Harga Pangan 22 November: Gula Pasir, Telur, Beras, dan Minyak Goreng Kembali Melonjak

Mukroni membantah klaim pemerintah soal penurunan harga. Menurutnya, yang dirasakan di bawah masih tinggi. Ia mencontohkan, harga beras per 50 kilogram mencapai lebih dari Rp 600 ribu. Padahal, biasanya tak semahal itu.

"Dulu bisa beli di bawah Rp 500 ribu, sekarang sudah di atas Rp 600 ribu. Itupun belum tentu 50 kilogram kadang isi 47-48 kilogram. Harga tidak naik tapi timbangan dikurangi," kata Mukroni.

Karena itu, kata Mukroni, dampak dari bantuan pangan beras yang digelontorkan pemerintah kepada masyarakat berpendapatan rendah dianggap mampu menekan harga beras di pasaran, belum dirasakan pedagang warteg.

"Di bawah masih tinggi, karena para agen beras belinya stoknya banyak, tidak mungkin langsung menurunkan harga, mereka tidak mau rugi, kalau harga mulai turun baru terasa 1 mingguan, nunggu stok para agen habis," terang Mukroni.

Selain itu, pedagang warteg juga mengeluhkan harga minyak goreng.

"Minyak goreng sudah naik Rp 1000 bahkan minyak kita langka di agen-agen, katanya ditahan nunggu pemerintah menaikan harga Rp 15.000 per liter, pemerintah tersandera sama pengusaha minyak goreng," tutur Mukroni.

Baca juga: Warteg, Kearifan Lokal yang Murah Meriah dan Bikin Kenyang!

Sebelumnya, berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), laju kenaikan harga beras pada September 2023 mencapai 5,61 persen, melonjak dari bulan Agustus 2023 di mana kenaikannya 1,43 persen.

Kemudian pada saat bantuan pangan tahap kedua (September – Oktober) digelontorkan, harga beras mengalami penurunan 1,72 perseb pada Oktober 2023, dan kembali turun 0,43 persen pada November 2023.

Sebelumnya, tren penurunan harga beras juga terjadi pada saat bantuan pangan beras tahap pertama digelontorkan periode April - Juni 2023 di mana laju kenaikan harga beras pada Mei 2023 sebesar 0,02 persen, pada Juni 2023 sebesar 0,13 persen, dan pada Juli 2023 harga beras turun -0,02 persen.

Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved