Warteg, Kearifan Lokal yang Murah Meriah dan Bikin Kenyang!
Berawal tahun 1950-an menyediakan makanan murah meriah dan bikin kenyang bagi buruh konstruksi, warteg kini jadi bagian sehari-hari…
Buat sebagian orang Jakarta, warteg atau warung tegal mungkin jadi pilihan alternatif untuk makan. Setelah kantong nyaris kosong di akhir bulan lantaran gaji yang numpang lewat usai hura-hura atau buat yang memang sengaja berhemat.
Namun buat sebagian lain, warteg justru jadi pilihan tempat makan utama tanpa pandang waktu. Elise Dwi misalnya. Dia adalah salah satu orang yang menganggap warteg sebagai tujuan utama untuk makan.
"Harusnya tanya kapan ga ke warteg. Sesering itu (makan di warteg) terutama buat cari makan siang," katanya kepada DW Indonesia.
Murah meriah, wareg
Buat Elise, warung nasi ini punya harga jual yang murah, tapi tak murahan. Harga murah ini menjadikannya bisa berhemat dan mengatur keuangan sebagai seorang pendatang di Jakarta. Selain itu variasi menu di warteg yang lengkap dan banyak pilihan juga menjadi daya tarik.
"Sayur favorit itu sayur bayam atau sayur dengan kuah bening. Terus lauknya suka telur ceplok, teri kacang terutama teri yang ukurannya mini dan orek tempe."
Untuk semua ini, dia hanya butuh merogoh kocek setidaknya Rp20.000 sekali makan. Coba bandingkan dengan harga sekali makan makanan lengkap di restoran atau bahkan restoran fast food sekalipun, tentu bisa berkali lipat.
Harga yang terjangkau juga jadi daya tarik utama buat Daniel Erondlint. Dengan harga murah, pria yang bekerja di sebuah kantor di Jakarta Selatan ini bisa wareg (kenyang) maksimal dengan harga minimal.
"Justru kalau di warteg gue selalu minta nasinya dikit. Di warteg justru ingin makan banyak lauk dan sayur, tanpa bikin kantong bolong."
Warteg 'kelas atas' perlukah?
Selama ini warteg kerap diidentikkan dengan tempat makan kaum kelas bawah dengan tempat cenderung gerah, kurang higinis, dan riuh dengan teriakan dari berbagai penjuru area. Buat beberapa orang kondisi ini memang tak nyaman.
Kira-kira 8 tahun lalu, konsep warteg yang lebih modern dengan penambahan pendingin ruangan, penataan kursi dan meja bak restoran, dekor yang estetik, sampai konsep warteg dengan metode food court di perkantoran dan dibungkus dengan lipatan kertas nasi bak origami marak di dunia kuliner Indonesia.
Berbagai 'restoran' warteg yang diklaim sebagai warteg naik kelas mulai bermunculan di Jakarta kala itu, popularitas mereka yang menggunakan nama warteg yang diklaim naik kelas dengan memberi tambahan servis untuk pelanggannya ternyata tak cukup kuat untuk menopang bisnis warteg fancy tersebut.
Usai sempat populer, warteg naik kelas ini justru mulai ditinggalkan para pecinta kuliner. Beberapa di antaranya bahkan tak lagi sanggup untuk mengalahkan popularitas warteg konvensional dan menutup usahanya.
Penulis, kritikus sekaligus pemerhati kuliner Indonesia Kevindra Prianto Soemantri mengungkapkan bahwa usaha membuat warteg terlihat naik kelas dengan warteg-warteg fancy.
"Agak kontra kalau soal ini. Karena saya merasa tidak ada yang perlu dinaikkelaskan dari warteg ini. Yang sering terjadi dan sering dilupakan adalah kalau kita menaikkelaskan sesuatu, sering kali autentisitasnya hilang. Padahal itu yang dicari orang. Contohnya begini, kalau kita ke warteg, ya kita tidak akan expect bakal ada AC di situ. Tapi yang dicari apa? Pengalamannya, makanannya yang enak dan harganya murah. Sudah, itu saja," katanya kepada DW Indonesia.
"Tapi mungkin perlu ada naik kelas dari sisi misalnya hygiene factor. Sekali hygiene factor dinaikin maka hasilnya akan lebih baik kok. Misalnya lampunya dibuat lebih terang, ventilasi baik, itu dengan sendirinya akan keliatan lebih proper seperti yang sudah dilakukan banyak warteg saat ini. Itu sudah cukup, tidak perlu sampai dibuat restoran berkonsep warteg."
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/bdeutsche-welle66685372_403.jpg.jpg)