Industri Rubber Airbag Perkuat Ekosistem Maritim Nasional
Selama bertahun-tahun, kebutuhan rubber airbag di Indonesia sangat bergantung pada produk impor, terutama dari Tiongkok.
Laporan Wartawan Hasiolan EP/Tribunnews.com
TRIBUNNEWS.COM - Sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau, Indonesia memiliki posisi strategis di dunia maritim baik itu di transportasi laut, perkapalan, perikanan, pertambangan, hingga pariwisata bahari.
Agar potensi besar ini bisa dioptimalkan, penguatan infrastruktur dan teknologi pendukung di bidang maritim menjadi hal yang mutlak diperlukan.
Salah satu inovasi penting dalam mendukung kegiatan industri perkapalan adalah rubber airbag atau kantung udara berbahan karet. Teknologi ini digunakan dalam proses peluncuran dan pengangkatan kapal, baik dari laut ke darat maupun sebaliknya.
Berbeda dari sistem dry dock konvensional yang memerlukan infrastruktur besar dan mahal, penggunaan rubber airbag menawarkan solusi yang lebih fleksibel dan ekonomis.
Kantung ini bekerja dengan cara menahan berat kapal dan mendistribusikan beban secara merata, memungkinkan kapal untuk digulirkan secara aman ke darat dalam proses perawatan atau perbaikan.
Selama bertahun-tahun, kebutuhan rubber airbag di Indonesia sangat bergantung pada produk impor, terutama dari Tiongkok.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir, telah terjadi perubahan signifikan dengan mulai dikembangkannya teknologi ini secara mandiri oleh produsen dalam negeri.
Kemajuan signifikan dalam industri maritim nasional dengan kemampuannya memproduksi rubber airbag secara mandiri antara lain ditunjukkan oleh PT Samudera Luas Paramacitra (SLP).
General Manager PT SLP, Budi Nugroho, menjelaskan, inisiatif pihaknya didukung oleh lembaga riset nasional Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) yang kini menjadi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Kemenristekdikti. dan kementerian terkait.
Dia menyebut, inisiatif ini menunjukkan bahwa industri dalam negeri mampu memenuhi kebutuhan teknologi maritim strategis dengan kualitas bersertifikasi internasional, seperti ISO 14409:2011.
Langkah ini tidak hanya menekan ketergantungan terhadap produk impor, tetapi juga meningkatkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), yang merupakan indikator penting dalam pembangunan industri nasional yang berdaulat.
“Kami berharap dengan inovasi ini, industri perkapalan di Indonesia semakin maju, khususnya dalam proses perawatan kapal yang harus rutin dilakukan,” tambah Budi Nugroho selaku General Manager PT SLP.
Baca juga: Industri Baja Nasional Topang Pertumbuhan Galangan Kapal dan Infrastruktur Energi Lepas Pantai
Selain itu, keberhasilan produksi lokal rubber airbag menandai kebangkitan teknologi maritim Indonesia dan memperluas peluang ekspor produk berbasis teknologi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Rubber-airbag-OK.jpg)