Transaksi dengan Mata Uang Lokal dan Renminbi Butuh Dukungan Regulator dan Perbankan
Dengan transaksi berbasis mata uang lokal, pelaku bisnis bisa lebih leluasa bertransaksi tanpa terlalu bergantung pada valas tertentu.
Penulis:
Eko Sutriyanto
Editor:
Choirul Arifin
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Pemanfaatan mata uang lokal untuk bertransaksi lintas negara atau Local Currency Transaction (LCT) dan penguatan peran Renminbi (RMB) dalam perdagangan internasional dinilai hanya bisa berhasil jika ada kerja sama yang kuat antara regulator, dunia usaha, dan sektor perbankan.
Pesan itu mengemuka dalam acara LCT & RMB Business Forum 2025 yang digelar Bank ICBC Indonesia di Jakarta belum lama ini.
Presiden Direktur Bank ICBC Indonesia, Chen Yong, mengatakan sinergi ketiga pihak tersebut sangat penting agar manfaat LCT benar-benar dirasakan dunia usaha.
Dengan transaksi berbasis mata uang lokal, pelaku bisnis bisa lebih leluasa bertransaksi tanpa terlalu bergantung pada valas tertentu. Dampaknya, risiko fluktuasi kurs dapat ditekan.
“Penguatan peran RMB sebagai salah satu mata uang utama dunia akan memberikan nilai tambah nyata bagi dunia usaha Indonesia. Langkah ini juga memperkuat ketahanan ekonomi nasional di tengah dinamika global,” jelas Chen Yong.
ICBC Indonesia mencatat hasil positif. Pada paruh pertama 2025, volume transaksi LCT yang difasilitasi bank ini tumbuh lebih dari dua kali lipat dibandingkan total transaksi sepanjang 2024.
Sebagai salah satu Appointed Cross Currency Dealer (ACCD), ICBC Indonesia aktif membantu penyelesaian transaksi antara Indonesia dan Tiongkok dalam mata uang lokal.
Forum ini juga menghadirkan Deputy Director Forex Market Development Team Bank Indonesia, Romi Fondarihta Peranginangin, yang menegaskan pentingnya dukungan regulator. Ia menyebut ada 17 bank ACCD Indonesia dan 15 bank ACCD Tiongkok yang saat ini bekerja sama untuk memperluas pemanfaatan LCT.
Selain regulator dan perbankan, nasabah korporat ICBC turut membagikan pengalaman mereka. Menurut mereka, penggunaan LCT dan RMB mampu menekan biaya transaksi sekaligus membuat bisnis lebih efisien.
Chen Yong menutup dengan optimisme bahwa kerja sama tiga pihak akan mempercepat adopsi LCT dan RMB di Indonesia.
“Kami berharap forum ini dapat menjadi katalisator bagi peningkatan kerja sama ekonomi dan memperkuat posisi Indonesia di tengah dinamika global yang semakin kompleks,” pungkasnya.
Baca juga: Arab Saudi Gagalkan Agenda BRICS Ganti Dolar AS dengan Mata Uang Lokal
Ia menambahkan, forum ini bukan hanya ajang diskusi, tetapi juga ruang untuk menjalin kolaborasi nyata.
“Sinergi regulator, pelaku usaha, dan sektor perbankan akan mempercepat pemanfaatan LCT dan RMB, sekaligus menjaga stabilitas sistem keuangan,” tutupnya.
Local Currency Transaction (LCT) adalah transaksi keuangan internasional yang dilakukan menggunakan mata uang lokal masing-masing negara, bukan dolar AS atau mata uang asing lainnya.
Tujuannya adalah untuk mengurangi ketergantungan terhadap mata uang global seperti USD, sekaligus menekan risiko fluktuasi nilai tukar dan biaya konversi.
Baca juga: Tinggalkan Dolar AS, Indonesia dan Uni Emirat Arab Sepakat Gunakan Mata Uang Lokal untuk Perdagangan
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.