Punya Nilai Ekonomi Tinggi, Kementerian Pertanian Dorong Industri Hilir Gambir
Di Singapura, gambir banyak digunakan sebagai bahan obat sakit gigi dan sakit perut.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman akan menggenjot pengembangan industri hilir gambir untuk bahan baku industri skincare dan tinta.
Gambir banyak ditanam di Indonesia dan Malaysia. Oleh sebagian masyarakat Indonesia digunakan untuk bahan campuran menyirih, bahan baku obat dan pewarna pakaian.
Provinsi Sumatera Barat memasok 64 persen kebutuhan gambir dunia. Secara nasional, daerah ini menyumbang 80 pesren produksi gambir dengan volume 16 ribu - 20 ribu ton per tahun.
Di Singapura, gambir banyak digunakan sebagai bahan obat sakit gigi dan sakit perut sementara di Malaysia, gambir dimanfaatkan sebagai obat tradisional untuk mengobati diare sekaligus disentri.
Amran menyatakan sudah mengalokasikan anggaran secara anggaran untuk mendorong industri hilir gambir. Pabriknya pun akan segera dibangun.
"Ada komoditas khusus seperti Gambir sudah diplotkan anggaran. Pabriknya dibangun," katanya di kantor Kementerian Pertanian, Jakarta, Senin (22/9/2025).
Ke depannya, gambir tidak akan diekspor sebatas bahan baku mentah. "Jangan kirim daun. Jangan kirim batangan. Gambir bisa jadi tinta pilpres," kata dia.
Gambir bisa menghasilkan beragam produk turunan lain seperti sampo, sabun, kosmetik dan produk perawatan kulit.
"Masa ke Korea Selatan? Kita berbondong-bondong nanti skincare, sampo, kalau mau cantik ke Sumatera Barat. Itu mimpi kita," ucap Amran. Dengan demikian, nilai ekonomi gambir menjadi meningkat.
Daun gambir panen segar harga jualnya sekitar Rp 3.000 per kilogram. Jika dihitung dari 100 kilogram daun gambir, nilainya mencapai Rp 300.000.
Dengan produksi 20 ribu ton per tahun, nilai ekonomi yang dihasilkan dari penjualan daun gambir diperkirakan mencapai Rp 60 miliar.
Sementara, harga getah gambir Rp 30.000 per kg dengan persentase 6–12 persen dari bobot bahan. Dari 100 kilogram daun gambir, nilai yang dihasilkan setara Rp 360.000 atau 120 persen lebih tinggi dibanding komoditi daun gambir segar.
Potensi ekonomi dari getah gambir bisa mencapai Rp 600 miliar per tahun dengan produksi 20 ribu ton per tahun.
Produk turunan yang lebih bernilai adalah tanin. Dengan kadar di atas 70 persen harganya mencapai Rp 2 juta per kilogram dengan persentase bobot bahan 1,8–4,8 persen.
Baca juga: Masyarakat Adat Dayak Kenyah Kelola Kakao Berbasis Kearifan Lokal
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Daun-gambir-OK.jpg)