Kinerja Industri Semen Ditopang dari Program Pemerintah, Pasar di Sumbagsel Mengalami Pertumbuhan
Data ASI menunjukkan secara nasional permintaan (demand) semen mengalami penurunan sebesar 2 persen pada semester I 2025.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kinerja industri semen nasional ditopang dari program pemerintah di sektor infrastruktur dan perumahan, serta proyek swasta yang masih terus berjalan.
Direktur Utama PT Semen Baturaja Tbk (SMGR), Suherman Yahya, mengatakan, permintaan semen di wilayah Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) mengalami pertumbuhan di tengah menurunnya permintaan nasional sebesar 2 persen.
Wilayah Sumbagsel meliputi lima provinsi, yaitu Jambi, Sumatera Selatan (Sumsel), Bengkulu, Lampung, dan Kepulauan Bangka Belitung.
Baca juga: Selamatkan Industri, Kemenperin Dorong Pembangunan Dapur MBG dari Baja Dalam Negeri
"Ini momentum bagi kami untuk terus meningkatkan pertumbuhan dengan memanfaatkan potensi pasar Sumbagsel yang merupakan pusat pertumbuhan,” ujar Suherman dikutip dari Kontan, Rabu (1/10/2025).
Berdasarkan data Asosiasi Semen Indonesia (ASI), secara nasional permintaan (demand) semen mengalami penurunan sebesar 2 persen pada semester I 2025.
Sementara itu, permintaan semen di Pulau Sumatera tumbuh 5 persen, sedangkan Sumbagsel yang merupakan pasar utama SMBR justru tumbuh 8 persen.
Tercatat pada Semester I 2025, SMBR membukukan kenaikan volume penjualan sebesar 21 persen dan laba bersih melesat 952 persen menjadi Rp79,62 miliar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Direktur Keuangan & SDM SMBR, Rahmat Hidayat, perseroan telah menekan biaya produksi agar harga pokok lebih efisien, mengoptimalkan jalur distribusi ke pasar utama, dan memperkuat konsolidasi pasar.
Sementara dari sisi sinergi dengan SIG, SMBR mendapatkan skala ekonomis yang lebih besar serta dukungan rantai pasok yang luas, sehingga akses pasar semakin kuat.
"Kedua hal inilah yang menjadi faktor dominan meningkatnya volume penjualan dan laba bersih SMBR di Semester I 2025,” jelas Rahmat.
Sementara itu, Direktur Operasi SMBR Taufik menekankan bahwa efisiensi juga ditopang oleh penerapan strategi cost leadership melalui teknologi dan inovasi proses produksi.
Taufik bilang, saat ini Semen Baturaja menerapkan strategi cost leadership dengan menekan biaya produksi melalui efisiensi energi, seperti penurunan faktor klinker dan penggunaan bahan baku alternatif yang lebih ekonomis.
Pihaknya juga mengadopsi teknologi plant automation dengan sistem Intelligence Process Control System (IPCS), yaitu sistem berbasis model prediktif yang mengoptimalkan operasi produksi secara real time.
"Sistem ini mampu menghitung otomatis kebutuhan bahan bakar, temperatur, hingga kadar oksigen sehingga proses produksi lebih stabil, hemat energi, ramah lingkungan, serta menjaga kualitas produk tetap terjamin,” terang Taufik.
Artikel ini sudah tayang di Kontan dengan judul Laba Bersih Semen Baturaja Melompat 952 persen pada Semester I-2025, Ini Pendorongnya
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/pabrik-pt-semen-baturaja-tbk-smbr.jpg)