Pengusaha Minta Perusahaan Imbangi Penggunaan AI dengan Tenaga Manusia
Industri iklan dinilai bergeser dari reach ke konversi. AI mulai berperan dalam pengelolaan interaksi pelanggan bisnis digital.
Ringkasan Berita:
- Industri advertising mulai bergeser dari fokus jangkauan ke efektivitas konversi pelanggan digital.
- Pemanfaatan AI dinilai membantu pengelolaan interaksi pelanggan di berbagai kanal komunikasi bisnis.
- Tantangan integrasi data, sistem operasional, dan iklan masih menjadi perhatian pelaku industri.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Industri advertising dan teknologi digital dinilai tengah mengalami pergeseran pendekatan bisnis. Jika sebelumnya keberhasilan iklan banyak diukur dari jangkauan audiens atau reach, kini perhatian mulai bergeser pada efektivitas konversi serta pengelolaan interaksi pelanggan secara langsung.
Perubahan tersebut disorot Laode Hartanto, yang saat ini menjabat Chief Growth Officer di Cekat.AI. Ia memiliki pengalaman di sejumlah perusahaan teknologi, media digital, dan periklanan, di antaranya Gojek, Emtek Group, Facebook, serta dentsu Indonesia.
Menurut Laode, tantangan industri saat ini tidak hanya membangun permintaan melalui iklan, tetapi juga memastikan interaksi pelanggan dapat dikelola dan dikonversi secara efektif dalam proses bisnis.
“Selama bertahun-tahun, kita fokus membangun sistem untuk menjangkau audiens secara masif. Namun ke depan, pertanyaannya bukan lagi reach, melainkan bagaimana setiap interaksi bisa dikonversi menjadi revenue,” ujar Laode Hartanto, Minggu (10/5/2026).
Perubahan pola tersebut terjadi seiring meningkatnya pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam operasional bisnis dan pemasaran digital.
Dalam praktiknya, perusahaan disebut menghadapi tantangan dalam menghubungkan aktivitas advertising dengan sistem operasional yang menangani respons pelanggan hingga proses transaksi.
Akibatnya, sebagian potensi pendapatan dinilai tidak selalu dapat tertangkap secara optimal dalam alur customer journey.
Baca juga: Prabowo Tegaskan Ekonomi RI Dalam Kondisi yang Kuat: Banyak Negara Panik, Kita Tidak Panik
Mengacu laporan Dentsu Indonesia, belanja iklan digital di Indonesia diproyeksikan masih tumbuh seiring meningkatnya aktivitas e-commerce, social commerce, serta penggunaan platform digital berbasis data.
Di sisi lain, indikator kinerja iklan juga mengalami pergeseran. Jika sebelumnya berfokus pada impressions dan exposure, kini mulai mengarah pada conversion rate, retensi pelanggan, serta kecepatan respons terhadap interaksi pengguna.
Perubahan tersebut turut mendorong penggunaan sistem otomatisasi dalam pengelolaan interaksi pelanggan lintas platform, terutama pada layanan berbasis percakapan digital.
Cekat.AI adalah platform berbasis AI Agent yang digunakan untuk pengelolaan interaksi pelanggan di berbagai kanal digital, termasuk WhatsApp, Instagram, TikTok, dan Telegram.
Menurut Laode, pemanfaatan AI diperkirakan akan semakin terintegrasi dalam sistem operasional bisnis ke depan.
“AI akan menjadi infrastruktur baru dalam cara bisnis beroperasi. Advertising tetap penting sebagai driver demand, tetapi AI adalah engine yang memastikan demand tersebut tidak terbuang, melainkan dikonversi secara optimal,” katanya.
Platform tersebut dikembangkan oleh Matthew Sebastian dan Nicholas Alden Liem, yang melakukan riset AI di Amerika Serikat. Pengembangannya berawal dari kajian terkait AI Agent sebelum diterapkan pada pengelolaan interaksi pelanggan digital.
Di sisi lain, pemanfaatan AI dalam industri advertising juga memunculkan sejumlah tantangan, antara lain terkait transparansi sistem, kualitas data pelanggan, serta akurasi interaksi otomatis.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/mekari-penggunaan-teknologi-generative-artificial-intelligence-bisa-membantu-bisnis.jpg)