Senin, 13 April 2026

Wajib Dihindari! 3 Kesalahan Ini Bikin Bisnis Laundry Bangkrut

Bisnis laundry di Indonesia memiliki potensi yang besar, namun dibutuhkan strategi yang tepat, mesin industrial, dan sistem yang transparan.

Editor: Content Writer
HO/IST
BISNIS LAUNDRY - (Dari kiri ke kanan) Sales Director for Southeast Asia at Alliance Laundry Systems, Dr.Sukree Kirai bersama Direktur PT Super Andalan Perkasa – Authorized Distributor IPSO Indonesia, Erna Tamin. 

TRIBUNNEWS.COM - Bisnis laundry di Indonesia tengah berkembang pesat seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat akan layanan praktis dan efisien. Fenomena menjamurnya usaha laundry tidak lepas dari potensi pasar yang masih terbuka luas dan belum tergarap maksimal.

Dengan jumlah penduduk mencapai 283 juta jiwa, Indonesia saat ini hanya memiliki sekitar 506 outlet laundromat. Artinya, satu outlet harus melayani kurang lebih 565 ribu orang.

Rasio ini sangat timpang jika dibandingkan dengan Malaysia, yang memiliki satu outlet untuk setiap 12 ribu jiwa. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa peluang bisnis laundry di Indonesia masih sangat besar.

Laundromat atau laundry self-service adalah tempat cuci pakaian mandiri, di mana konsumen dapat mencuci dan mengeringkan pakaian menggunakan mesin yang dioperasikan dengan koin, kartu, atau pembayaran digital. Konsep ini menawarkan efisiensi dan kebebasan bagi konsumen. 

Namun, potensi besar tersebut bisa berubah menjadi masalah apabila pengelolaan bisnis tidak dilakukan dengan tepat.

Baca juga: Modal Awal Kecil, Bisnis Laundry Lebih Menjanjikan dan Tidak Sesulit F&B

Faktor Penyebab Kegagalan Bisnis Laundry

Erna Tamin, pionir laundry self-service di Indonesia sekaligus Direktur PT Super Andalan Perkasa (SAP), distributor resmi mesin laundry IPSO, mengungkapkan beberapa penyebab utama kegagalan bisnis laundry.

Menurut Erna, salah satu faktor yang sering membuat bisnis laundry merugi adalah kecurangan yang dilakukan oleh karyawan.

Ia menegaskan bahwa praktik seperti manipulasi nota konsumen, pembuatan laporan fiktif, hingga markup pembelian barang dapat menimbulkan kerugian besar bagi pemilik usaha.

“Kecurangan seperti memalsukan nota konsumen, membuat laporan fiktif, hingga markup pembelian barang adalah sebagian kecil dari perilaku yang dapat merugikan pemilik usaha,” jelasnya.

Untuk mengantisipasi hal ini, Erna menekankan pentingnya sistem pembayaran cashless melalui e-payment. Dengan cara ini, jumlah uang tunai yang dipegang karyawan dapat diminimalisir.

Ia juga menyarankan agar pembelian kebutuhan laundry dilakukan langsung oleh pemilik usaha untuk menghindari penyalahgunaan.

Kesalahan lain yang sering terjadi adalah penggunaan mesin rumah tangga untuk kebutuhan bisnis. Banyak pengusaha laundry yang karena ketidaktahuan atau ingin berhemat, memilih mesin non-komersial. Akibatnya, mesin cepat rusak dan tidak mampu bekerja secara optimal.

Erna menekankan bahwa mesin laundry untuk usaha harus memiliki kapasitas besar dan konstruksi industrial grade agar tahan banting serta mampu beroperasi 24 jam non-stop.

“Penting menggunakan mesin kapasitas besar dengan konstruksi industrial grade yang tahan banting dan bisa beroperasi 24 jam non-stop,” ujar Erna.

Selain faktor internal, kelemahan dalam strategi pemasaran juga menjadi penyebab kegagalan. Erna menegaskan bahwa promosi di awal pembukaan outlet sangat menentukan keberhasilan jangka panjang.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved