Selasa, 12 Mei 2026

Diskusi ILUNI UI dan Ikastara Kupas Peluang Infrastruktur Topang Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen

Pertumbuhan ekonomi RI konsisten di atas 5 persen dan menjadi fondasi ekonomi nasional yang kuat.

Tayang:
(Ho/Campus League)
DISKUSI INFRASTRUKTUR - Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono di acara Balairung Dialogue 2025 bertema “Dari Infrastruktur ke Inklusivitas: Jalan Menuju Ekonomi 8 Persen" di Jakarta, Selasa, 9 Desember 2025. 
Ringkasan Berita:
  • Pertumbuhan ekonomi RI konsisten di atas 5 persen dan menjadi fondasi ekonomi nasional yang kuat.
  • Kementerian Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan mengorkestrasi pembangunan infrastruktur dasar, konektivitas, ketahanan pangan, energi dan air bersih, memperkuat pendidikan, kesehatan dan perumahan.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Indonesia terus menunjukkan ketahanan dan stabilitas ekonomi di tengah kondisi ekonomi dunia yang makin dinamis dan kompleks.

Pertumbuhan ekonomi RI konsisten di atas 5 persen dan menjadi fondasi ekonomi nasional yang kuat. Namun, untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi 8 persen yang berkelanjutan dan inklusif, Indonesia membutuhkan strategi baru yang lebih progresif serta sinergi lintas sektor, antara pemerintah, pelaku usaha, akademisi, komunitas dan masyarakat luas.

Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI UI) dan Ikatan Alumni SMA Taruna Nusantara (IKASTARA) menyelenggarakan Balairung Dialogue 2025 bertema “Dari Infrastruktur ke Inklusivitas: Jalan Menuju Ekonomi 8 Persen" di Jakarta, Selasa, 9 Desember 2025.

Baca juga: Pertumbuhan Ekonomi di Tengah Tekanan Bencana

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono dalam keynote speechnya menyatakan, tema infrastruktur menuju inklusivitas yang diangkat dalam diskusi ini sangat relevan karena pertumbuhan ekonomi harus dikejar sekaligus diwujudkan secara adil dan merata, tanpa ada yang tertinggal.

"Kami bertugas mengorkestrasi pembangunan infrastruktur dasar, konektivitas, ketahanan pangan, energi, dan air bersih, serta memperkuat pendidikan, kesehatan dan perumahan agar kesejahteraan dapat dirasakan dan menghadirkan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat Indonesia," ungkap Agus Yudhoyono.

Diskusi ini juga menghadirkan panelis antara lain Country Director World Bank untuk Indonesia dan Timor Leste Carolyn L. Turk; Direktur Jenderal Stabilitas dan Pengembangan Sektor Keuangan Kementerian Keuangan Masyita Crystallin; Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur Dasar Kemenkoinfra Muhammad Rachmat Kaimuddin; Senior Director Investment Danantara Indonesia Sunata Tjiterosampurno; Direktur Pembiayaan Publik dan Pengembangan Proyek PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) Faaris Pranawa; Executive Vice President Customer Experience and Excellence Services PT PLN (Persero) Wahyu Ahadi Rouzi; serta Chief Economist Bank Permata Josua Pardede.

Sebagai dua komunitas alumni nasional yang memiliki rekam jejak panjang dalam kepemimpinan publik serta kontribusi nyata di berbagai sektor strategis, ILUNI UI dan IKASTARA memandang perlunya ruang dialog yang dapat menjembatani gagasan besar lintas disiplin.

Pramudya A. Oktavinanda, Ketua Umum ILUNI UI, menegaskan pentingnya membangun ekosistem kolaboratif lintas pemangku kepentingan.

“Alumni UI berada di berbagai posisi strategis, di pemerintahan, organisasi internasional, institusi akademik, dunia usaha, dan banyak ruang pengabdian lainnya. Melalui forum seperti ini, peran ILUNI UI adalah menjadi penghubung yang mempertemukan perspektif dan kepakaran. Dari dialog yang sehat inilah lahir kolaborasi yang sinergis. Sebab, tidak ada tantangan besar bangsa yang dapat diselesaikan sendiri; hanya dengan bekerja bersama kita dapat menghadirkan terobosan yang berdampak," ujarnya.

Ketua Umum IKASTARA Mohamad Fachri juga menegaskan pentingnya inklusivitas dalam ruang kolaborasi. “Komunitas alumni tidak boleh menjadi ruang yang eksklusif. Almamater adalah identitas, tetapi pengabdian harus merangkul lebih luas. Karena itu, kami membuka dialog dengan pemerintah, sektor swasta, akademisi, dan berbagai pemangku kepentingan lain agar komunikasi dapat terjalin dengan baik," ungkapnya.

Dia menambahkan, tantangan kita saat ini adalah bagaimana mengkomunikasikan gagasan dan kebijakan secara lebih
efektif kepada masyarakat.

"Di situlah kolaborasi lintas pihak menjadi kunci," ungkapnya.

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved