Inalum Dorong Hilirisasi Aluminium dengan Prinsip ESG
Hilirisasi aluminium menjadi strategi kunci untuk memperluas manfaat industri sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai nilai global.
Ringkasan Berita:
- Hilirisasi aluminium menjadi strategi kunci untuk memperluas manfaat industri sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai nilai global.
- Inalum melakukan tiga proyek strategis sebagai aksi korporasi mewujudkan hilirisasi.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Jelang usia ke setengah abad, PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) berkomitmen untuk menempuh dan membentuk jalan baru menuju masa depan industri aluminium nasional yang lebih kuat, berkelanjutan, dan kompetitif.
Transformasi yang dijalankan tidak hanya berfokus pada modernisasi teknologi peleburan, peningkatan efisiensi, serta pemanfaatan energi yang lebih baik dan modern, tetapi juga pada bagaimana setiap proses bisnis mampu menciptakan nilai tambah yang nyata bagi lingkungan, masyarakat, dan pembangunan daerah.
"Dalam kerangka ini, hilirisasi aluminium menjadi strategi kunci untuk memperluas manfaat industri sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai nilai global," ujar Corporate Secretary Inalum Mahyaruddin Ende, beberapa waktu lalu.
Baca juga: Bisnis Eropa Rugi Bandar, Terdampak Kebijakan Trump Atas Kenaikan Tarif Impor Baja dan Alumunium
Inalum menjalankan hilirisasi dengan pendekatan yang bertanggung jawab dan terukur sebagai bagian dari komitmen terhadap prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) yang semakin menentukan keberlanjutan bisnis secara global.
Inalum melakukan tiga proyek strategis sebagai aksi korporasi mewujudkan hilirisasi. Adapun proyek tersebut antara lain Pembangunan SGAR II dan Smelter II di Mempawah, Kalimantan Barat, dan Pembangunan Potline IV di Kuala Tanjung, Batubara, Sumut.
Pada aspek lingkungan, kata Mahyaruddin, upaya konservasi difokuskan pada perlindungan ekosistem Danau Toba, dimana alih fungsi lahan dan pembalakan liar selama bertahun-tahun oleh masyarakat telah memicu terjadinya sekitar 250 ribu hektare lahan kritis.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Inalum membangun pembibitan modern berkapasitas hingga 500 ribu bibit pohon per tahun sebagai fondasi rehabilitasi lingkungan yang berkelanjutan dan berbasis dampak yang diwujudnyatakan dalam program rehabilitasi lahan seluas 500 hektare per tahun, terutama di kawasan tangkapan air dan wilayah penyangga sumber energi.
Langkah ini tidak hanya menjaga keseimbangan ekosistem dan ketersediaan air, tetapi juga memperkuat ketahanan operasional pembangkit listrik tenaga air yang menjadi basis energi hijau Inalum.
Aksi Sosial
Jelang usia ke setengah abad, Inalum juga menyiapkan beberapa program Aksi Peduli sebagai langkah tanggap bencana yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat.
Program ini mencakup Pemeriksaan Kesehatan gratis, Pasar Murah di 12 titik lokasi, hingga Pemulihan Infrastruktur di Kawasan bencana.
Beberapa program bantuan dan pemulihan sudah disiapkan seperti 13.000 paket sembako murah dan komitmen pemulihan infrastruktur yang akan disebarkan oleh Inalum dengan partisipasi Insan Inalum yang menjadi relawan.
Beberapa program Tanggap Bencana disiapkan oleh INALUM dalam periode Desember 2025 hingga akhir Januari 2026. Program tersebut tersebar di Kawasan Operasional Perusahaan (Toba dan Batubara) dan Kawasan Bencana di Sumut, Aceh, dan Sumbar. Program tersebut antara lain: Pembagian Sembako, Pelayanan Kesehatan, Mobiler Sekolah, Peralatan Mitigasi Bencana, Tenda Darurat, Bibit Pertanian-Perikanan, dan Pembangunan Infrastruktur.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/didukung-oleh-kinerja-pt-indonesia-asahan-aluminium-inalum.jpg)