Senin, 1 Juni 2026

2026 Bulog Beli Gabah Petani Pakai Mekanisme Transfer, Tak Lagi Cash

Pembelian gabah petani oleh Perum Bulog mulai 2026 ini akan didorong menggunakan sistem transfer dan tidak lagi menggunakan mekanisme pembelian tunai.

Tayang:
ist
PEMBELIAN GABAH PETANI - Pembelian gabah petani oleh Perum Bulog mulai 2026 ini akan didorong menggunakan sistem transfer ke rekening bank milik petani dan tidak lagi menggunakan mekanisme pembelian tunai atau cash. 

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pembelian gabah petani oleh Perum Bulog mulai 2026 ini akan didorong menggunakan sistem transfer dan tidak lagi menggunakan mekanisme pembelian tunai atau cash.

Karenanya, Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mendorong para petani agar membuka rekening di bank agar transaksi pembelian gabah bisa lebih efisien dan praktis.

Saat ini, skema pembelian Gabah Kering Panen (GKP) oleh Bulog dilakukan secara langsung di sawah milik petani. "Contohnya di Indramayu, Subang, atau Karawang, itu kita eksekusi beli gabah kering panennya di sawah," kata Rizal di kantornya di Jakarta, Jumat (2/1/2026).

Bulog membeli GKP hasil panen petani dengan harga Rp 6.500 per kilogram. Gabah yang dipanen langsung diletakkan di jalan, ditimbang di lokasi, lalu dibayar di tempat dengan sistem tunai atau cash and carry.

Namun, pada 2026 ini Bulog menargetkan pembayaran gabah dilakukan secara non-tunai atau digital.

"Kami sedang kembangkan Bulog itu pembayarannya tidak menggunakan uang tunai, tapi kami menggunakan uang digital. Teman-teman petani harapannya sudah punya nomor rekening," ujar Rizal. 

Menurut dia, sistem pembayaran digital memiliki sejumlah keuntungan. Pertama, dari sisi keamanan, petani tidak perlu lagi membawa uang tunai dalam jumlah besar setelah gabahnya ditebus Bulog.

Baca juga: Dapat Penugasan, Bulog Kembali Serap Gabah Petani dengan Harga Rp6.500 per Kg

Kedua, pembayaran digital memungkinkan petani menabung. Ketiga, pencatatan transaksi menjadi lebih cepat dan mudah karena data langsung tercatat hingga ke kantor pusat Bulog.

Rizal menyebut jumlah nominal yang diserap pada hari tersebut, bahkan per detik, bisa langsung terlihat di kantor pusat Bulog

Keempat, sistem digital dinilai mampu meminimalisir potensi korupsi di lapangan. Menurut Rizal, petugas Bulog di lapangan bisa saja ada yang nakal.

"Ini supaya tidak nakal, kami buat nanti pembayarannya digital, sehingga tidak ada lagi ruang-ruang untuk berbuat yang aneh-aneh di lapangan," ucap Rizal.

Baca juga: Petani Sulit Raup Untung, PDIP Minta Pemerintah Evaluasi Harga Gabah

Purnawirawan TNI itu akan menggandeng Himpunan Bank Negara (Himbara) seperti BRI, BNI, dan Mandiri dalam menjalankan digitalisasi pembayaran ini.

Rizal akan segera mengumpulkan Himbara untuk membahas digitalisasi pembayaran, terutama menjelang panen raya yang semakin dekat. 

"Harapannya mereka juga sudah mulai menjadikan petani-petani ini menjadi nasabah baru, sehingga nanti lebih mudah lebih aman dan lebih terkontrol," kata Rizal.  

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved