Harga Emas
Siap-siap Untung Gede yang Punya Emas, Harga Diprediksi Tembus Rp3,5 Juta Per Gram
Kenaikan harga emas dipicu ketegangan geopolitik global, perang dagang, serta dinamika politik Amerika Serikat.
Ringkasan Berita:
- Harga emas dunia saat ini berada di level 5.085 dolar AS per troy ounce dan diprediksi bisa menembus 5.500 dolar AS pada 2026.
- Kenaikan harga emas dipicu ketegangan geopolitik global, perang dagang, serta dinamika politik Amerika Serikat.
- Meski berpotensi koreksi, peluang penguatan harga emas dinilai masih lebih besar dalam waktu dekat.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Harga emas diprediksi makin melonjak seiring memanasnya kondisi geopolitik global.
Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi, menyampaikan, harga emas dunia saat ini sudah berada di level 5.085 dolar AS per troy ounce.
"Harga emas dunia maupun logam mulia diprediksi 5.500 dolar AS per troy ounce dan Rp3.500.000 tahun 2026," kata Ibrahim, Senin (26/1/2026).
Menurutnya, jika harga emas dunia mengalami koreksi, maka penurunan pertama diperkirakan terjadi ke level 4.960 dolar AS per troy ounce, dengan harga logam mulia turun ke Rp2.852.000.
Baca juga: Harga Emas Dunia Hari Ini Meroket, Bagaimana Harga di Pegadaian?
Namun, Ibrahim menilai peluang kenaikan masih cukup besar. Jika harga emas dunia menguat, pada awal pekan depan diperkirakan bisa menyentuh level 5.020 dolar AS per troy ounce, dengan harga logam mulia naik ke sekitar Rp2.992.000.
Penyebab Lonjakan Harga Emas
Ibrahim menjelaskan, pergerakan harga emas dunia dan logam mulia dipengaruhi oleh sejumlah faktor utama, antara lain kondisi geopolitik global, perang dagang, dinamika politik Amerika Serikat, serta faktor supply dan demand.
Dari sisi geopolitik, ketegangan global masih menjadi sentimen utama meskipun isu Greenland sempat mereda.
Hubungan Amerika Serikat dan Uni Eropa dinilai masih memanas, terutama terkait sikap Eropa yang menolak bergabung dalam sejumlah inisiatif perdamaian yang diprakarsai Amerika, termasuk konflik Rusia-Ukraina dan Gaza.
"Saya melihat bahwa pada saat Trump memprakarsai perdamaian untuk Uni Eropa, memprakarsai perdamaian untuk Gaza, negara-negara Eropa tidak mau bergabung. Ya walaupun sudah ada satu kesepakatan tentang masalah Greenland," ucap Ibrahim.
"Tetapi pemimpin-pemimpin Uni Eropa sampai saat ini masih memanas hubungannya dengan Amerika terbukti Dengan Dewan ini untuk gencatan senjata di Eropa, Rusia, Ukraina, mereka pun juga menolak bergabung Kemudian di jalur Gaza pun juga mereka menolak bergabung, itu yang pertama," sambungnya.
Selain itu, meningkatnya ketegangan di Timur Tengah turut menjadi perhatian pasar, menyusul pergerakan armada laut Amerika Serikat dan peringatan keras Presiden AS Donald Trump terkait isu Israel-Iran dan pengembangan nuklir.
Dari sisi perang dagang, meski sudah ada kesepakatan tertentu antara Amerika dan Eropa, Ibrahim menilai potensi ketegangan masih ada karena rencana penerapan tarif dagang sebesar 15 persen yang dijadwalkan berlaku pada Februari.
Sementara dari faktor politik Amerika Serikat, pasar juga mencermati penentuan calon Gubernur Bank Sentral Amerika Serikat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Harga-Emas-Antam-Mulai-Naik_20250409_204103.jpg)