Senin, 11 Mei 2026

IHSG Anjlok, Marwan Demokrat Tegaskan Fundamental Ekonomi Tetap Kuat

Anggota Komisi XI DPR RI Marwan Cik Asan, menilai gejolak IHSG yang terjadi dalam beberapa hari terakhir lebih merupakan koreksi jangka pendek.

Tayang:
Penulis: Chaerul Umam
Editor: Wahyu Aji
istimewa
Anggota Komisi XI DPR RI Fraksi Partai Demokrat Marwan Cik Asan, menilai gejolak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terjadi dalam beberapa hari terakhir lebih merupakan koreksi jangka pendek. 

Ringkasan Berita:
  • Anggota Komisi XI DPR RI Marwan Cik Asan menilai gejolak IHSG bersifat koreksi jangka pendek berbasis sentimen.
  • Marwan menegaskan kondisi makroekonomi Indonesia masih solid.
  • Ia mengapresiasi langkah OJK dan BEI menindaklanjuti rekomendasi MSCI.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Anggota Komisi XI DPR RI Fraksi Partai Demokrat Marwan Cik Asan, menilai gejolak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terjadi dalam beberapa hari terakhir lebih merupakan koreksi jangka pendek berbasis sentimen, bukan cerminan melemahnya fundamental ekonomi nasional.

Menurut Marwan, tekanan pasar dipicu oleh respons investor terhadap pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI), terkait transparansi data kepemilikan dan free float saham Indonesia. 

MSCI merupakan penyedia indeks global yang menjadi acuan utama investor institusi dunia, termasuk dana kelolaan raksasa seperti reksa dana global, dana pensiun, dan exchange traded fund (ETF).

Indeks MSCI digunakan untuk menentukan alokasi investasi lintas negara, termasuk klasifikasi suatu negara sebagai Developed Market, Emerging Market, atau Frontier Market.

Dalam pengumumannya, MSCI akan membekukan seluruh kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS), serta tidak mengimplementasikan penambahan saham baru ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI).

“Isu ini kerap ditafsirkan berlebihan sebagai ancaman sistemik, padahal sifatnya teknis dan administratif. MSCI tidak menjatuhkan vonis, melainkan memberikan peringatan untuk pembenahan,” kata Marwan, kepada wartawan Kamis (29/1/2026).

Marwan menegaskan indikator makroekonomi Indonesia masih relatif solid. 

Pertumbuhan ekonomi bertahan di kisaran 5 persen, inflasi terjaga, defisit transaksi berjalan terkendali, cadangan devisa memadai, serta rasio utang terhadap PDB tetap rendah.

“Tidak ada guncangan fundamental yang cukup kuat untuk menjelaskan koreksi IHSG sedalam ini. Karena itu, situasi saat ini harus dibaca sebagai ujian ketahanan pasar, bukan sinyal rapuhnya perekonomian,” ucapnya.

Marwan mengapresiasi langkah OJK dan BEI yang berkomitmen menindaklanjuti rekomendasi MSCI, terutama dalam peningkatan transparansi dan penguatan tata kelola. 

Dia juga mengimbau investor untuk menjaga perspektif jangka menengah dan panjang.

“Pasar tidak membutuhkan kepanikan, melainkan keyakinan yang rasional. Dengan fondasi ekonomi yang kuat dan komitmen reformasi berkelanjutan, pasar modal Indonesia akan semakin matang dan kredibel,” pungkasnya.

Kondisi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)  dua hari terakhir ini sedang mengalami penurunan parah.

Pada Rabu (28/1/2026), Bursa Efek Indonesia (BEI) menerapkan trading halt atau penghentian sementara perdagangan saham.

Tercatat, pada awal perdagangan sesi kedua hari Rabu, IHSG ambruk 8 persen ke posisi 8.261,79 pukul 13:42 WIB.

Pada Kamis (29/1/2026) pagi ini, BEI kembali memberlakukan trading halt pukul 09.59 WIB setelah IHSG ambles 835,20 poin atau setara 10,04 persen ke level 7.485,35.

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved