Sabtu, 6 Juni 2026

Libur Imlek Dua Hari Diproyeksi Dongkrak Perputaran Uang hingga Rp 9 Triliun

Sarman Simanjorang memperkirakan perayaan dan libur Imlek tahun ini akan mengerek konsumsi rumah tangga dan mendorong produktivitas perekonomian.

Tayang:
Penulis: Lita Febriani
Editor: Sanusi
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
SEMBAHYANG IMLEK - Warga keturunan Tionghoa melakukan proses sembahyang malam pergantian Tahun Baru Imlek 2577/2026 di Wihara Amurva Bhumi, Jakarta, Senin (16/2/2026). Sembahyang malam pergantian Tahun Baru Imlek 2577/2026 itu sebagai ungkapan syukur atas segala rezeki dan keselamatan serta untuk pengharapan kehidupan lebih baik. TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN 
Ringkasan Berita:
  • Momentum perayaan Imlek tahun ini tidak hanya dimanfaatkan warga Tionghoa untuk merayakan Tahun Baru Cina, tetapi juga masyarakat luas
  • Penumpang kereta cepat Whoosh tercatat meningkat 25 persen atau mencapai sekitar 25.000 penumpang selama libur panjang

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kebijakan pemerintah yang menetapkan libur Tahun Baru Imlek selama dua hari, yakni 16-17 Februari sebagai hari libur nasional, diproyeksi mendorong peningkatan aktivitas ekonomi nasional.

Momentum perayaan Imlek tahun ini tidak hanya dimanfaatkan warga Tionghoa untuk merayakan Tahun Baru Cina, tetapi juga masyarakat luas untuk bepergian, berwisata, hingga ziarah menjelang bulan suci Ramadan.

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Otonomi Daerah Sarman Simanjorang memperkirakan perayaan dan libur Imlek tahun ini akan mengerek konsumsi rumah tangga dan mendorong produktivitas perekonomian.

Sejumlah sektor usaha diprediksi merasakan lonjakan permintaan, mulai dari transportasi, pariwisata, ritel, hingga kuliner.

"Dari sektor transpotasi udara, tiket penerbangan ke berbagai kota besar seperti Medan, Semarang, Surabaya, Banjarmasin, Pontianak, Bali dan Palembang mengalami lonjakan. Jumlah penumpang diperkirakan mencapai 1.744.820 orang yang bepergian dari Bandara Soetta," tutur Sarman dalam keterangan, Senin (16/2/2026).

Sementara itu, jumlah penumpang kereta api tujuan berbagai kota di Pulau Jawa seperti Bandung, Yogyakarta, Semarang, Surabaya dan kota lainnya hampir menembus 1 juta orang.

Penumpang kereta cepat Whoosh tercatat meningkat 25 persen atau mencapai sekitar 25.000 penumpang selama libur panjang tersebut.

Untuk perjalanan darat menggunakan kendaraan pribadi, data dari Jasa Marga memperkirakan sekitar 1,6 juta kendaraan bergerak selama periode libur, dengan sekitar 831.000 kendaraan meninggalkan wilayah Jabodetabek dan sisanya masuk ke wilayah tersebut.

Jika rata-rata satu kendaraan diisi empat penumpang, maka pergerakan manusia diperkirakan mencapai 6,4 juta orang.

Sektor pariwisata dan turunannya turut terdampak positif. Destinasi wisata, pusat perbelanjaan, ritel, pusat kuliner, kafe, hingga pelaku usaha makanan khas daerah diperkirakan mengalami peningkatan omzet.

Permintaan pernak-pernik Imlek dan aneka buah khas seperti jeruk mandarin, apel, delima, nanas, buah naga merah, ikan bandeng, kue keranjang, serta minuman khas Tionghoa juga diproyeksi meningkat sekitar 30 persen selama perayaan.

"Perkiraaan atau potensi perputaran uang selama perayaan dan libur Imlek Tahun 2026 diperkirakan mencapai Rp 9 triliun lebih," ungkap Sarman.

Perhitungan tersebut antara lain didasarkan pada jumlah warga Indonesia keturunan Tionghoa yang diperkirakan mencapai 11,25 juta orang.

Baca juga: Imlek 2026: Sejarah, Tema, Logo dan Link Downloadnya

Dengan asumsi rata-rata satu keluarga terdiri dari empat orang, terdapat sekitar 2.812.500 keluarga. Jika setiap keluarga membelanjakan rata-rata Rp 1 juta untuk kebutuhan perayaan seperti makan bersama dan berbagi angpao, maka potensi perputaran uang mencapai Rp 2,81 triliun.

Dari sisi perjalanan wisata dan ziarah, diperkirakan sekitar 3.369.820 orang bepergian menggunakan pesawat, kereta api dan kendaraan pribadi.

Dengan asumsi belanja rata-rata Rp 500.000 per orang, potensi perputaran uang mencapai sekitar Rp 1,68 triliun.

Transaksi tiket pesawat dari 1.744.820 penumpang dengan asumsi harga rata-rata Rp 1 juta diperkirakan mencapai Rp 1,74 triliun.

Sementara transaksi tiket kereta api reguler dengan potensi 1 juta penumpang dan harga rata-rata Rp 150.000 mencapai sekitar Rp 150 miliar.

Adapun tiket kereta cepat Whoosh dengan 25.000 penumpang dan tarif rata-rata Rp 250.000 diperkirakan menghasilkan transaksi sekitar Rp 6,25 miliar.

Di sektor ritel, mengacu pada data Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo), target transaksi perayaan Imlek hingga Ramadan dan Idulfitri diperkirakan mencapai Rp 53,38 triliun.

Jika selama libur Imlek terjadi sekitar 5 persen dari total target tersebut, maka potensi perputaran uang di sektor ritel mencapai sekitar Rp 2,66 triliun.

Dengan berbagai komponen tersebut, total potensi perputaran uang selama perayaan dan libur Imlek 2026 diperkirakan mencapai sekitar Rp 9,06 triliun.

Angka ini belum termasuk biaya tol, belanja bahan bakar kendaraan pribadi, serta perjalanan menggunakan kapal laut dan penyeberangan.

Sarman menilai, perputaran uang selama perayaan Imlek akan menjadi pendorong konsumsi rumah tangga yang merupakan kontributor utama pertumbuhan ekonomi nasional.

Momentum ini diharapkan memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 yang ditargetkan di kisaran 5,5 persen.

"Tentu akan memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional kuartal I-2026 yang ditargetkan dikisaran 5,5 persen. Target ini optimis bisa tercapai karena selesai perayaan dan libur Imlek akan berlanjut bulan Ramadhan dan perayaan Idul Fitri," ucapnya.

Target pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 sebesar 5,5 persen diharapkan menjadi modal kuat untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi nasional tahun 2026 di kisaran 5,4 hingga 5,6 persen.

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved