Imlek 2026
APPBI: Kunjungan Mal Saat Libur Imlek 2026 Naik 10–15 Persen, Tapi Bukan untuk Belanja Pakaian
Kamar Dagang dan Industri Indonesia memperkirakan potensi perputaran uang selama perayaan dan libur Imlek 2026 mencapai sekitar Rp 9,06 triliun.
Ringkasan Berita:
- Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia mencatat kenaikan kunjungan mal 10–15 persen saat long weekend Imlek 2026 dibanding tahun lalu.
- Pengunjung datang bukan untuk belanja pakaian, melainkan membeli makanan-minuman serta menikmati dekorasi dan pertunjukan seperti barongsai.
- Kamar Dagang dan Industri Indonesia memperkirakan potensi perputaran uang selama perayaan dan libur Imlek 2026 mencapai sekitar Rp 9,06 triliun dari konsumsi, perjalanan, dan ritel.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) mencatat adanya kenaikan jumlah pengunjung pusat perbelanjaan atau mal pada libur Imlek tahun ini.
Ketua Umum APPBI Alphonzus Widjaja mengungkap jumlah kenaikannya mencapai 10 hingga 15 persen dibanding saat libur Imlek tahun lalu.
"Rata-rata tingkat kunjungan ke pusat perbelanjaan pada saat long weekend Imlek mengalami peningkatan sekitar 10-15 persen dibandingkan dengan tahun lalu," katanya kepada Tribunnews, Selasa (17/2/2026).
Baca juga: Blusukan ke PIM, Empat Menteri Prabowo Cek Program Diskon: Pakaian hingga Elektronik
Menurut Alphonzus, momen libur panjang Imlek pada tahun ini dimanfaatkan masyarakat untuk berliburan di daerah masing-masing.
Hal tersebut berbeda dari biasanya yang hampir selalu dimanfaatkan masyarakat untuk bepergian keluar kota dikarenakan waktunya berdekatan dengan Ramadan.
"Oleh karena itu, banyak masyarakat yang memanfaatkan long weekend Imlek kali ini untuk berkunjung ke pusat perbelanjaan," ujar Alphonzus.
Namun, pada libur Imlek tahun ini masyarakat mendatangi pusat perbelanjaan bukan untuk berbelanja barang seperti pakaian.
Aktivitas belanja disebut sudah terjadi pada pekan sebelumnya saat pusat perbelanjaan mulai menawarkan berbagai program diskon.
Pada pekan ini, pengunjung lebih banyak mengisi libur panjang mereka dengan berbelanja kategori produk makanan dan minuman serta menikmati hiburan yang disajikan pusat perbelanjaan yang mereka kunjungi.
"Berbagai dekorasi, acara, atraksi dan pertunjukan, salah satunya adalah barongsai, juga telah menjadi daya tarik bagi masyarakat untuk berkunjung dan mengisi long weekend di pusat perbelanjaan," kata Alphonzus.
Berdasarkan perkiraan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, potensi perputaran uang selama perayaan dan libur Imlek 2026 mencapai di atas Rp 9 triliun.
Menurut Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Otonomi Daerah Sarman Simanjorang, potensi tersebut dihitung berdasarkan jumlah warga Indonesia keturunan Tionghoa yang diperkirakan mencapai 11,25 juta orang.
"Perkiraan atau potensi perputaran uang selama perayaan dan libur Imlek tahun 2026 diperkirakan mencapai 9 triliun lebih," ujar Sarman dalam keterangan tertulis.
Sarman menyatakan, perayaan Imlek tidak hanya dirayakan umat Khonghucu, tetapi juga mayoritas warga Tionghoa lintas agama, karena merupakan perayaan Tahun Baru China yang bersifat budaya dan dirayakan secara luas.
Jika populasi tersebut diasumsikan dalam rata-rata satu keluarga berisi empat orang, maka terdapat sekitar 2.812.500 keluarga.
Dengan perkiraan setiap keluarga membelanjakan rata-rata Rp 1 juta untuk kebutuhan makan bersama, angpao, dan tradisi lainnya, maka potensi perputaran uang mencapai sekitar Rp 2,81 triliun.
Selain itu, sekitar 3.369.820 orang diperkirakan melakukan perjalanan wisata atau ziarah selama libur Imlek, menggunakan berbagai moda transportasi termasuk kendaraan pribadi.
"Jika rata-rata pengeluaran mencapai Rp 500 ribu per orang, maka potensi perputaran uang dari sektor perjalanan saja mencapai sekitar Rp 1,68 triliun," tutur Sarman.
Dari sektor transportasi udara, jumlah penumpang diperkirakan mencapai 1.744.820 orang. Jika setiap penumpang mengeluarkan rata-rata Rp 1 juta untuk tiket, maka nilai transaksi tiket pesawat mencapai sekitar Rp 1,74 triliun.
Sementara itu, penumpang kereta api diperkirakan mencapai 1 juta orang dengan rata-rata tiket Rp 150 ribu, sehingga menghasilkan transaksi sekitar Rp 150 miliar.
Kereta cepat Whoosh diperkirakan melayani 25 ribu penumpang dengan rata-rata tiket Rp 250 ribu, atau sekitar Rp 6,25 miliar.
Di sektor ritel, berdasarkan data Hippindo, target transaksi selama periode Imlek hingga Ramadan dan Idulfitri diproyeksikan mencapai Rp 53,38 triliun.
"Jika selama libur Imlek terjadi transaksi sekitar 5 persen dari target tersebut, maka potensi perputaran uang di sektor ritel mencapai sekitar Rp 2,67 triliun," ungkap Sarman.
"Dengan demikian potensi perputaran uang selama perayaan dan libur Imlek 2025 diperkirakan lebih kurang Rp 9,06 triliun," imbuh dia.
Angka ini belum termasuk biaya tol, pembelian BBM kendaraan pribadi, serta transportasi laut dan penyeberangan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Penampilan-Barongsai-Tripusaka-di-pusat-perbelanjaan-Pakuwon-Mall-Solo-Baru-pada-Sabtu-1522026.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.