Selasa, 9 Juni 2026

80 Persen Saham Emiten BLUE Diakuisisi Dragonmine Mining, Bakal ke Bisnis Nikel?

Dragonmine Mining berencana membeli 334,4 juta saham BLUE atau setara 80?ri seluruh saham yang telah ditempatkan dan disetor penuh.

Tayang:
Editor: Sanusi
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
AKUISISI - Dragonmine Mining membeli 334,4 juta saham BLUE atau setara 80?ri seluruh saham yang telah ditempatkan dan disetor penuh 

Ringkasan Berita:
  • Dragonmine Mining membeli 334,4 juta saham BLUE atau setara 80 persen dari seluruh saham yang telah ditempatkan dan disetor penuh.
  • Dragonmine Mining yang merupakan perusahaan private berkantor pusat di Hong Kong, pemiliknya adalah Huayou Hongkong Limited.
  • Terdapat potensi bagi BLUE untuk mengubah haluan model bisnisnya pasca perubahan pengendali. 

 


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Emiten atau perusahaan publik, PT Berkah Prima Perkasa Tbk (BLUE) mengumumkan penandatanganan Perjanjian Jual Beli Bersyarat (Conditional Shares Purchase Agreement/CSPA) antara para pemegang sahamnya dengan Dragonmine Mining (Hong Kong) Limited yang akan menjadi pengendali baru perseroan.

Hal tersebut diketahui dari keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) yang disampaikan BLUE, yang mana Dragonmine Mining berencana membeli 334,4 juta saham BLUE atau setara 80?ri seluruh saham yang telah ditempatkan dan disetor penuh.

Baca juga: TNI AL Amankan Kapal Pengangkut Nikel Diduga Langgar Aturan Pelayaran

Perkembangan ini merupakan kelanjutan proses akuisisi yang telah disampaikan perseroan sebelumnya pada November 2025. 

Siapa Dragonmine Mining?

BLUE diketahui produsen tinta merk Blueprint, di mana ke depannya bisa saja berubah bismis menjadi nikel.

Jika dilihat dari profil Dragonmine Mining yang merupakan perusahaan private berkantor pusat di Hong Kong, pemiliknya adalah Huayou Hongkong Limited.

Meskipun BLUE belum memberikan keterangan lebih lanjut terkait identitas Dragonmine Mining, namun berdasarkan penelusuran dari berbagai sumber, Huayou Hongkong Limited merupakan anak usaha Zhejiang Huayou Cobalt Co.,Ltd, yang difokuskan sebagai unit investasi luar negeri di bidang pertambangan dan mineral.

Huayou memiliki lima pilar bisnis utama yang mencakup seluruh rantai industri material baterai lithium-ion, di mana industri nikel Indonesia menjadi salah satu sektor strategisnya. 

Perusahaan asal Tiongkok tersebut kian ekspansif di Indonesia dalam mengembangkan ekosistem baterai terintegrasi, salah satunya melalui Proyek Titan yang bekerjasama dengan Antam dan Indonesia Battery Corporation (IBC).

Head of Research NH Korindo Sekuritas Indonesia Ezaridho Ibnutama mengatakan, terdapat potensi bagi BLUE untuk mengubah haluan model bisnisnya pasca perubahan pengendali. 

Langkah ini berpotensi dapat memperbaiki kinerja perusahaan-perusahaan dengan performa rendah di Bursa Efek Indonesia pada masa dimana pengawasan masih minim, sehingga memungkinkan perusahaan dengan kualitas yang lebih baik untuk masuk melalui skema backdoor listing. 

Selain itu, BEI juga telah merilis regulasi baru yang memungkinkan perusahaan tercatat untuk mengubah kode saham (ticker) mereka.

“Sebagai referensi, sekitar 30?ri seluruh perusahaan di BEI saat ini mencatatkan kerugian bersih. Dengan adanya reformasi pasar modal yang mewajibkan porsi saham publik (free float) lebih tinggi berdasarkan ukuran kapitalisasi pasar, regulasi baru ini memicu kemacetan baru pada aksi IPO,” ungkap Ezar dikutip Senin (23/2/2026).

BLUE sebagai pemain industri tinta dan alat tulis, kini menghadapi prospek akuisisi 80% saham oleh Dragonmine. Mengingat Dragonmine dimiliki secara langsung oleh Huayou yang sudah memiliki investasi miliaran dolar di Morowali dan Pomalaa, transmisi aset nikel ke dalam BLUE diprediksi tinggal menunggu waktu.

Pergerakan harga saham BLUE melonjak signifikan dengan kenaikan 117% year to date dan hampir 1.900?lam setahun. Namun harga saham BLUE sempat terkoreksi ditengah kondisi pasar yang volatile saat mengumumkan fakta CSPA ini.

 

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved