Iran Vs Amerika Memanas
Imbas Konflik Iran vs AS, Bursa Saham di Asia Kompak Bertumbangan
Konflik di Timur Tengah memicu kekhawatiran guncangan pasokan energi yang berpotensi mengerek inflasi serta menunda rencana pemangkasan suku bunga.
Ringkasan Berita:
- Indeks saham di Asia mengalami koreksi tajam akibat eksodus investor asing dan kekhawatiran atas eskalasi konflik Iran-AS-Israel.
- Harga minyak mentah Brent melonjak 12 persen hingga menyentuh Rp1,32 juta per barel, sementara harga gas di Eropa meroket 65?lam dua hari akibat serangan pada infrastruktur energi di wilayah Teluk.
- Investor mulai cemas bahwa tingginya harga energi dalam jangka panjang akan memicu inflasi persisten, sehingga menunda rencana pemangkasan suku bunga oleh bank sentral dunia.
TRIBUNNEWS.COM - Bursa saham di kawasan Asia mengalami koreksi dalam pada perdagangan Rabu ini (4/3/2026) seiring dengan kecemasan terhadap perluasan konflik antara Iran dan Amerika Serikat serta Israel.
Konflik di Timur Tengah tersebut juga memicu kekhawatiran baru akan guncangan pasokan energi yang berpotensi mengerek inflasi serta menunda rencana pemangkasan suku bunga global.
Koreksi dalam ini juga diperparah dengan langkah investor yang melakukan aksi ambil untung atau profit taking pada instrumen emas dan saham sektor semikonduktor.
Ambruknya bursa saham di kawasan Asia bisa ditilik dari indeks Kospi di Seoul.
Dikutip dari data Reuters, Kospi menjadi salah satu bursa saham di Asia yang terdampak paling parah dengan terjun bebasnya indeks mereka hingga 4 persen,
Penurunan ini juga meneruskan tren bearis yang telah mencatatkan akumulasi kerugian lebih dari 11 persen hanya dalam dua hari perdagangan terakhir.
Eksodus besar-besaran investor asing dari pasar Korea Selatan terjadi pada saham-saham produsen cip memori berbasis kecerdasan buatan (AI) yang sebelumnya sempat menguat tajam.
Tekanan jual ini juga turut menyeret nilai tukar won ke level terendah dalam 17 tahun terakhir.
Sementara itu di Jepang, indeks Nikkei melemah 2,5 persen yang menandai kerugian selama tiga sesi berturut-turut.
Sebagai negara importir energi utama, Jepang dan Korea Selatan sangat rentan terhadap fluktuasi harga komoditas global.
Harga minyak mentah acuan Brent sendiri telah melonjak lebih dari 12 persen sepanjang pekan ini hingga menyentuh angka $81,40 atau Rp 1,32 juta per barel.
Baca juga: Rabu Pagi, IHSG Melemah ke Level 7.887, Ada 291 Saham Merosot
Meski demikian, harga minyak menta tersebut sempat sedikit melandai setelah Presiden AS Donald Trump memerintahkan jaminan asuransi pengiriman di wilayah Teluk dan menyatakan kesiapan angkatan laut untuk mengawal kapal tanker di Selat Hormuz jika situasi mendesak.
Situasi keamanan di Timur Tengah sendiri kian memanas setelah pasukan AS dan Israel melakukan pemboman terhadap Iran selama empat hari terakhir.
Sebaliknya, Iran mengerahkan serangan pesawat nirawak atau drone dan rudal yang menyasar sejumlah kilang minyak di Teluk serta kompleks kedutaan besar AS di Arab Saudi dan Kuwait.
Damien Boey, ahli strategi portofolio di Wilson Asset Management di Sydney, memberikan pandangannya terkait situasi ini.
Boey menilai terkoreksinya indeks saham Asia secara dalam merupakan respons investor yang kini mulai memperhitungkan skenario harga minyak yang akan tetap tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama.
"Memang terlihat seperti konflik akan berlangsung sedikit lebih lama daripada yang orang pikirkan pada awalnya. Dan ada eskalasi, karena perang sekarang meluas hingga mencakup sekutu AS. Infrastruktur minyak tampaknya sedang diserang, sehingga orang harus memikirkan berapa lama hal itu akan berlangsung," ungkap Boey.
Tanggapan juga diberikan oleh Chuck Carlson, CEO Horizon Investment Services di Hammond, Indiana, AS.
Dikutip dari Reuters, Chuck menjelaskan titik krusial yang dihadapi pasar saat ini.
"Isu terbesar yang sedang dipertimbangkan investor kembali ke keterkaitan antara inflasi dan suku bunga. Apakah harga energi akan tetap tinggi lebih lama daripada yang dipikirkan orang kemarin, dan kemudian apakah hal itu akan tersalurkan?"
Dampak ekonomi juga terasa di daratan Eropa, di mana mata uang Euro merosot di bawah akibat prediksi bahwa kawasan tersebut akan menanggung beban biaya energi yang sangat besar.
Harga gas acuan Eropa dilaporkan juga melonjak sekitar 65 persen hanya dalam kurun waktu dua hari.
Sementara itu di pasar komoditas, harga emas turun sekitar 4,5 persen sementara dolar Australia melemah 0,8 persen karena para pelaku pasar memilih mencairkan keuntungan guna menutupi kerugian di sektor lain di tengah volatilitas pekan ini.
Pada awal sesi perdagangan Asia, emas mulai stabil di posisi $5.128 per ounce atau setara dengan Rp2,67 juta per gram.
Sementara itu, bursa berjangka AS dan Eropa mencoba untuk bangkit, di mana futures S&P 500 bergerak datar dan futures Eropa tercatat naik 0,8 persen.
Bursa Wall Street juga mengalami tekanan, dengan indeks S&P 500 ditutup melemah 0,8 persen.
(Tribunnews.com/Bobby)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/ihsg-ditutup-melemah-mengikuti-bursa-saham-asia-dan-global_20240521_203637.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.