Jumat, 24 April 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Uang Masyarakat Bakal Terkuras Akibat Perang Israel-AS Vs Iran, Ini Penyebabnya

Rupiah yang melemah membuat biaya impor naik, sehingga harga barang seperti BBM, kedelai, elektronik hingga transportasi berpotensi ikut naik.

Tribunnews/Irwan Rismawan
HARGA PANGAN NAIK - Pedagang melayani pembeli di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Barang-barang yang berpotensi naik imbas melemahnya rupiah seperti produk impor yakni bahan bakar minyak (BBM), kedelai, kacang, barang-barang elektronik, dan komoditas lainnya. 

Ringkasan Berita:
  • Perang Israel-AS vs Iran mendorong harga minyak dunia melonjak hingga di atas 100 dolar AS per barel dan menekan nilai tukar rupiah.
  • Rupiah yang melemah membuat biaya impor naik, sehingga harga barang seperti BBM, kedelai, elektronik hingga transportasi berpotensi ikut naik.
  • Jika harga minyak terus tinggi, defisit APBN bisa melebar dan pemerintah berpotensi menaikkan BBM serta pajak.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Perang Israel-Amerika Serikat (AS) vs Iran hingga saat ini belum mereda, hingga menyebabkan gangguan ekonomi secara global.

Sebagai contoh di Indonesia, nilai tukar rupiah pada perdagangan Senin (9/3/2026) sempat menyentuh Rp17.000 per dolar AS.

Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas, Ibrahim Assuaibi menjelaskan, pelemahan rupiah tidak boleh dianggap sesuatu yang biasa, sebab dampaknya akan menambah pengeluaran masyarakat.

Baca juga: Rupiah Sempat Tembus Rp17.000 per Dolar AS, Bagaimana Pergerakan Besok?

"Pelemahan rupiah berdampak pada harga bahan-bahan pokok yang akan naik," ucap Ibrahim.

Ia mencontohkan, barang-barang yang berpotensi naik seperti produk impor yakni bahan bakar minyak (BBM), kedelai, kacang, barang-barang elektronik, dan komoditas lainnya.

Saat rupiah melemah, biaya yang dikeluarkan untuk impor makin tinggi. Dari kondisi ini, penjual akan menaikkan harga jualnya ke masyarakat.

"Pada saat impornya mahal seperti minyak, itu pasti akan berdampak terhadap barang-barang yang lain. transportasi juga naik, kemudian barang-barang naik," paparnya.

"Lalu tempe dan tahu yang bahan bakunya kedelai impor akan lebih mahal. Bisa juga ukurannya ditipisin," sambung Ibrahim.

Apalagi saat ini, harga minyak sudah melonjak hingga 30 persen, jauh melampaui 100 dolar AS per barel dan mendekati level tertinggi yang terlihat selama awal perang Rusia-Ukraina pada tahun 2022.

Harga minyak dunia tersebut melampaui asumsi makro APBN 2026 yang hanya mematok harga di kisaran 70 dolar AS per barel. Dan ini akan menaikkan defisit sebesar Rp 6,8 triliun. 

"Apabila harga minyak terus meroket hingga mendekati atau bahkan melampaui 100 dolar AS per barel, dampaknya bakal fatal bagi fiskal nasional. Defisit APBN terhadap PDB bisa terdongkrak hingga mendekati 4 persen," tuturnya.

Ekonomi RI dalam Bahaya

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menyampaikan, kondisi perekonomian Indonesia saat ini sudah masuk dalam tahap mengkhawatirkan.

Tercatat, Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) RI pada Februari 2026 defisit Rp135,7 Triliun.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved