Harga Minyak Dunia Melonjak, Ini Kata Ojol Pengguna Motor Listrik
Tekanan harga minyak dunia tidak dirasakan driver ojek online yang menggunakan motor listrik.
Ringkasan Berita:
- Di Sumatera Utara, antrean panjang di SPBU mulai terlihat menyusul kepanikan pengguna kendaraan akan adanya kelangkaan BBM.
- Jika menggunakan motor berbahan bakar bensin, ia harus mengeluarkan biaya sekitar Rp 60.000 per hari hanya untuk membeli BBM.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Tekanan harga minyak dunia mendorong kekhawatiran kenaikan dan pasokan harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri. Namun, kekhawatiran ini tidak dirasakan driver ojek online yang menggunakan motor listrik.
Dalam dua pekan terakhir, ketegangan geopolitik di Timur Tengah antara Iran dengan koalisi Amerika Serikat dan Israel mulai memicu kekhawatiran baru di pasar energi global.
Konflik tersebut meningkatkan risiko gangguan pasokan minyak dunia, terutama jika jalur distribusi utama seperti Selat Hormuz terdampak.
Situasi ini mendorong lonjakan harga minyak mentah yang kini telah menembus level di atas US$110 per barel, di mana APBN Indonesia menetapkan asumsi bahwa harga minyak mentah di Indonesia di harga US$70 per barel.
Merujuk pada data Indef, kenaikan sebesar 10 dolar AS per barel di atas asumsi awal mengakibatkan pembengkakan biaya sebesar Rp 80 triliun. Jika harga minyak mencapai 120 dolar AS, total beban tambahan yang harus ditanggung diperkirakan mencapai Rp 400 triliun.
Bagi Indonesia yang masih mengimpor sebagian besar kebutuhan energi, kenaikan harga minyak dunia dapat meningkatkan tekanan terhadap harga bahan bakar minyak (BBM) domestik.
Baca juga: Tips Aman Simpan Motor Listrik Saat Ditinggal Mudik Lebaran, Tak Perlu Matikan MCB
Selain itu, potensi gangguan pasokan energi global juga memunculkan kekhawatiran terhadap stabilitas distribusi BBM di dalam negeri, karena cadangan operasional hanya mampu menopang kebutuhan konsumsi nasional sekitar 20-23 hari
Di Sumatera Utara, antrean panjang di SPBU mulai terlihat menyusul kepanikan pengguna kendaraan akan adanya kelangkaan BBM.
Kondisi ini membuat volatilitas harga minyak dunia semakin terasa dampaknya bagi perekonomian domestik, termasuk bagi masyarakat yang menggantungkan aktivitas harian pada kendaraan bermotor.
Salah satu kelompok yang paling sensitif terhadap kenaikan harga BBM adalah para pengemudi ojek online (ojol).
Dengan jumlah yang diperkirakan mencapai sekitar 6 juta orang di Indonesia, kenaikan harga BBM dapat langsung memengaruhi biaya operasional harian mereka.
Namun bagi Acel Yusde Pario, salah satu mitra ojol yang sudah bergabung sejak 2017, kekhawatiran ini sirna. Dia telah beralih ke motor listrik sejak pertengahan 2024 lalu.
Menurut perhitungannya, jika menggunakan motor berbahan bakar bensin, ia harus mengeluarkan biaya sekitar Rp 60.000 per hari hanya untuk membeli BBM. Pengeluaran tersebut belum termasuk biaya perawatan kendaraan di bengkel hingga pajak tahunan kendaraan.
Baca juga: Penjualan Motor Listrik Honda Naik Tiga Kali Lipat di 2025
Acel mengaku keputusan tersebut awalnya diambil dengan penuh keraguan karena ini merupakan pengalaman pertamanya menggunakan kendaraan listrik. Tetapi setelah beberapa waktu, ia justru semakin yakin dengan pilihannya.
Bahkan Acel akhirnya menambah satu unit motor listrik lagi untuk digunakan di rumah. Motor listrik yang digunakannya merupakan produk Electrum yang mampu menempuh jarak hingga sekitar 200 kilometer per hari.
Kendaraan listrik yang digunakannya tersebut menggunakan skema sewa milik. Karena unit yang digunakannya bukan motor baru, ia membayar sekitar Rp55.000 per hari ditambah biaya penggunaan baterai sekitar Rp25.000 per hari.
“Motor Electrum ini karena kilometer-nya sudah di atas 7.000, jadi saya harus bayar harga tersebut sampai 532 hari atau sekitar satu tahun tujuh bulan,” ujarnya saat dihubungi.
Jika dibandingkan dengan cicilan motor berbahan bakar bensin, menurut Acel biaya tersebut masih lebih efisien. Sebagai gambaran, cicilan motor bensin seperti Honda Vario bisa mencapai sekitar Rp2,3 juta per bulan, belum termasuk biaya bahan bakar, servis berkala, dan pajak kendaraan.
Sesuai kebijakan insentif pemerintah, tarif Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) untuk kendaraan listrik berbasis baterai ditetapkan 0 persen. Sebagai perbandingan motor bensin akan dikenakan PKB sebesar 1-2 persen dari Nilai Jual Kendaraan Bermotor (NJKB).
Misalnya, motor 150cc dengan NJKB Rp 25 juta akan dikenakan PKB sekitar Rp 375.000 - Rp 500.000. Pengguna motor listrik hanya perlu membayar Sumbangan Wajib Dana Kecelakaan Lalu Lintas Jalan atau asuransi, sebesar 35.000.
“Soal pajak juga ringan. Saya bayar sekitar Rp35.000 untuk asuransi saja,” katanya.
Dari sisi perawatan, motor listrik juga dinilai lebih sederhana. Servis yang dilakukan umumnya hanya berupa pengecekan sistem kelistrikan dan hingga saat ini sebagian besar masih ditanggung oleh penyedia layanan.
Selama menggunakan motor listrik, Acel mengaku belum menemukan kendala berarti. Bahkan menurutnya kendaraan listrik relatif lebih aman digunakan saat kondisi banjir.
Pada motor berbahan bakar bensin, air berpotensi masuk ke knalpot dan menyebabkan mesin mogok. Sementara pada motor listrik, selama air tidak masuk ke bagian jok yang menjadi tempat baterai, kendaraan tetap dapat beroperasi dengan aman.
Pengalaman tersebut membuatnya semakin mantap menggunakan kendaraan listrik untuk aktivitas sehari-hari. “Sejauh ini saya belum akan beralih ke motor bensin lagi. Saya masih nyaman menggunakan motor listrik,” pungkasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/peluncuran-electrum-h5-di-jakarta.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.