Harga Plastik Melejit
Harga Barang-barang di Pasar Bersiap Melonjak Imbas Kenaikan Harga Plastik
Pedagang pasar saat ini masih menahan harga barang di pasar meski margin menipis, namun kenaikan barang pasar sulit dihindari.
Dewi pedagang plastik menyampaikan, rata-rata kenaikan mencapai Rp 5.000 per pack, bahkan lebih tinggi untuk jenis tertentu.
"Naik sekitar Rp 5.000 per pack. Sebelum Lebaran sudah naik sedikit, tapi setelah Lebaran naiknya ngga umum," ucap Dewi.
Menurut Dewi, plastik kemasan putih menjadi yang paling terdampak dengan kenaikan lebih dari 50 persen. Ia mencontohkan harga plastik kemasan es kini menembus Rp 50.000 per kilogram.
"Yang naik paling parah yang plastik kemasan putih. Kayaknya naik lebih dari 50 persen. Kemarin belanja plastik kemasan es, sekarang sekilo Rp 50.000," ujar Dewi.
Tidak hanya mahal, pasokan juga mulai seret. Dewi mengaku sering menerima barang di bawah jumlah yang dipesan.
"Sudah mulai langka dari sebelum Lebaran. Kalau sekarang kayaknya jadi lebih langka. Saya belanja minta ke sales berapa, tapi dianter selalu kurang dari yang saya minta," ungkapnya.
Meski harga melonjak, permintaan tetap tinggi karena plastik masih menjadi kebutuhan utama pelaku usaha, terutama pedagang makanan.
"Ya pembeli tetap beli, kan kebutuhan orang jualan. Plastik-plastik kresek, kertas minyak juga pada naik. Kalau plastik buat orang-orang jualan online sekarang belum naik banget karena belum begitu ramai," terang Dewi.
Imbas Perang Timur Tengah
Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas) Fajar Budiono menjelaskan, lonjakan harga dipicu gangguan pasokan bahan baku global.
"Ini imbas dari ketegangan di Middle East, sehingga dengan ditutupnya Selat Hormuz itu 70 persen bahan baku nafta yang kita butuhkan itu jadi tidak bisa keluar dari sana," tutur Fajar saat dihubungi Tribunnews.com, Jumat (3/4/2026).
Ia menambahkan, ketidakseimbangan antara permintaan dan pasokan terjadi saat kebutuhan mulai meningkat selama periode Lebaran.
"Demand H+10 Lebaran ini mulai aktif, sehingga antara permintaan dengan suplai memang terjadi ketidakseimbangan," jelas Fajar.
Menurut Fajar, kenaikan harga sebenarnya sudah terjadi sejak konflik di kawasan Timur Tengah memanas, namun baru terasa signifikan setelah aktivitas pasar kembali normal pasca Lebaran.
"Seolah-olah harganya naiknya besar sekali, padahal kenaikannya itu sudah mulai dari minggu kedua pada saat perang di Iran dan Israel tadi," ujarnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/omzet-pedagang-pasar-tradisional-menurun_20210722_140937.jpg)