Sabtu, 9 Mei 2026

Biaya Transportasi Melejit, Subsidi Logistik dan Tol Laut Diharapkan Jadi Solusi

Kenaikan ongkos logistik ini tak hanya menggerus margin pedagang tetapi juga berpotensi mengganggu kelancaran pasokan terutama ke wilayah yang penting

Tayang:
Penulis: Eko Sutriyanto
Editor: willy Widianto
HO/IST/HO/IST
KELANGKAAN PLASTIK - Sekretaris Umum Induk Koperasi Pedagang Pasar (INKOPPAS), Andrian Lame Muhar, menegaskan bahwa kelangkaan plastik bukan isu utama yang mengganggu pasar rakyat saat ini. Justru kenaikan biaya transportasi akibat isu kenaikan harga solar yang menjadi ancaman nyata bagi distribusi bahan pangan. 
Ringkasan Berita:
  • Pemerintah juga diharapkan memperluas skema subsidi transportasi logistik dan mengoptimalkan kembali program tol laut
  • Tekanan eksternal turut memperberat kondisi, terutama pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh kisaran Rp17.000 per dolar AS
  • Stabilitas tersebut ditopang oleh intervensi pemerintah melalui program pangan murah

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Stabilitas harga pangan di pasar rakyat pasca-Idulfitri masih terjaga, namun tekanan di balik layar kian menguat seiring melonjaknya biaya transportasi yang membebani rantai distribusi dari hulu ke hilir.

Baca juga: Lonjakan Harga Plastik Dorong Warga Beralih ke Bahan Baku Ramah Lingkungan

Kenaikan ongkos logistik ini tidak hanya menggerus margin pedagang, tetapi juga berpotensi mengganggu kelancaran pasokan, terutama ke wilayah-wilayah yang bergantung pada distribusi antarpulau. 

Di tengah situasi tersebut, pelaku usaha pasar menilai persoalan logistik kini menjadi faktor dominan yang menentukan pembentukan harga, melampaui isu-isu lain yang sebelumnya sempat mencuat di ruang publik.

Induk Koperasi Pedagang Pasar (INKOPPAS) menilai lonjakan biaya transportasi sebagai tekanan paling signifikan yang dihadapi pedagang saat ini. Sekretaris Umum INKOPPAS, Andrian Lame Muhar, mengatakan beban logistik jauh lebih krusial dibandingkan persoalan kelangkaan plastik yang sebelumnya ramai diperbincangkan.

“Plastik itu murah, pedagang bisa substitusi. Tapi transportasi ini yang berat dan langsung memukul biaya distribusi,” ujarnya di Jakarta, Jumat (10/4/2026).

Ia mengungkapkan, kenaikan ongkos distribusi terlihat jelas pada komoditas strategis seperti minyak goreng. Biaya pengiriman dari Jakarta kini berkisar Rp1,3 juta hingga Rp1,5 juta per mobil, meningkat dari sebelumnya yang berada di rentang Rp900 ribu hingga Rp1,1 juta.

Menurutnya, kenaikan tersebut tidak hanya meningkatkan struktur biaya pedagang, tetapi juga berisiko menghambat distribusi ke daerah terpencil, khususnya kawasan Indonesia timur yang sangat bergantung pada jalur distribusi laut dan antarpulau.

Di sisi lain, tekanan eksternal turut memperberat kondisi, terutama pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh kisaran Rp17.000 per dolar AS. Kondisi ini berpotensi meningkatkan harga barang impor yang masih menjadi bagian dari pasokan di pasar domestik.

Meski demikian, INKOPPAS mencatat harga kebutuhan pokok di pasar rakyat relatif stabil pasca-Idulfitri. Stabilitas tersebut ditopang oleh intervensi pemerintah melalui program pangan murah, termasuk distribusi beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) serta minyak goreng MinyaKita.

Baca juga: Harga Minyak Dunia Melonjak! Blokade Selat Hormuz Picu Kepanikan Global

Namun, Andrian menilai intervensi tersebut belum menyentuh akar persoalan, yakni tingginya biaya distribusi. Oleh karena itu, INKOPPAS mendorong percepatan revitalisasi 13 ribu pasar rakyat guna meningkatkan efisiensi rantai pasok serta memperkuat daya saing pedagang kecil.

Selain itu, pemerintah juga diharapkan memperluas skema subsidi transportasi logistik dan mengoptimalkan kembali program tol laut sebagai instrumen untuk menekan biaya distribusi antarpulau.

“Diperlukan kebijakan yang lebih konkret dan berkelanjutan agar biaya logistik bisa ditekan, sehingga stabilitas harga di pasar rakyat tetap terjaga,” kata Andrian.

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved