Kinerja Triwulan I 2026, Penguatan Dana Pihak Ketiga Topang Hasil Kerja SMBC Indonesia
SMBC Indonesia mencatatkan penyaluran kredit sebesar Rp191,8 triliun pada Triwulan I-2026, meningkat 2,0 persen secara year-on-year (yoy).
Ringkasan Berita:
- SMBC Indonesia mencatat kinerja positif secara konsolidasi maupun bank pada Triwulan I-2026.
- Kinerja ditopang oleh upaya kolaborasi Perseroan dengan anak usaha untuk melayani berbagai berbagai segmen ritel dan bisnis.
- SMBC Indonesia mencatatkan penyaluran kredit sebesar Rp191,8 triliun pada Triwulan I-2026, meningkat 2,0 persen secara year-on-year (yoy).
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - PT Bank SMBC Indonesia Tbk (SMBC Indonesia) mencatat kinerja positif secara konsolidasi maupun bank saja pada Triwulan I-2026.
Kinerja ditopang oleh upaya kolaborasi Perseroan dengan anak usaha untuk melayani berbagai berbagai segmen ritel dan bisnis.
Direktur Utama SMBC Indonesia Henoch Munandar mengatakan, kinerja pada periode tersebut didukung oleh pertumbuhan penyaluran kredit pada Triwulan I-2026 dan penguatan struktur pendanaan.
Baca juga: Data Kredit Lebih Luas Dibutuhkan untuk Menjaga Pertumbuhan Pembiayaan
"Pertumbuhan kredit yang tetap terjaga ini mencerminkan pendekatan kami yang selektif dan berimbang di tengah dinamika pasar dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian," ujar Henoch dalam keterangannya dikutip Selasa (28/4/2026).
Adapun, SMBC Indonesia mencatatkan penyaluran kredit sebesar Rp191,8 triliun pada Triwulan I-2026, meningkat 2,0 persen secara year-on-year (yoy).
Pertumbuhan ini didorong oleh sejumlah segmen, antara lain kredit korporasi dan komersial yang tumbuh 4,1 persen yoy, kredit dari Jenius (di luar Digital Micro) sebesar 12,0 persen yoy, serta pembiayaan Grup OTO yang meningkat 5,0 persen yoy. Pembiayaan oleh BTPN Syariah juga turut tumbuh 3,7 persen yoy.
Perseroan secara konsolidasi juga berhasil menurunkan biaya kredit 7,9 persen yoy menjadi Rp1,2 triliun seiring dengan upaya SMBC Indonesia dalam menerapkan praktik manajemen risiko kredit yang cermat dan proaktif, serta menjaga tingkat cadangan yang memadai demi menjaga kualitas portofolio.
Sejalan dengan itu, total aset SMBC Indonesia meningkat 4,1 persen yoy menjadi Rp250,0 triliun per akhir Maret 2026, didukung oleh pertumbuhan aset likuid sebesar 22,2 persen yoy, terutama dari penempatan pada surat berharga.
Laba bersih setelah pajak (konsolidasi) yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat sebesar Rp456 miliar.
Sementara itu, laba bersih setelah pajak bank saja menunjukkan pertumbuhan positif sebesar 6,5 persen yoy menjadi Rp221 miliar, mencerminkan kinerja inti Bank yang tetap solid.
Kinerja anak usaha turut memberikan kontribusi positif terhadap kinerja konsolidasi SMBC Indonesia.
BTPN Syariah mencatat laba bersih sebesar Rp319 miliar pada Triwulan I-2026, tumbuh 2,8 persen yoy, dengan penyaluran pembiayaan mencapai Rp10,6 triliun.
Sementara, Grup OTO membukukan laba bersih sebesar Rp113 miliar, melonjak 45,5 persen yoy.
SMBC Indonesia juga mencatatkan penguatan dana murah (current account saving account/CASA) sebagai salah satu pendorong utama kualitas pendanaan pada Triwulan I-2026.
Saldo CASA tercatat mengalami peningkatan signifikan sebesar 40,6 persen yoy menjadi Rp59 triliun pada akhir Maret 2026, dibandingkan Rp41,9 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Sejalan dengan itu, rasio CASA meningkat dari 35,7 persen menjadi 44,1 persen, mencerminkan keberhasilan strategi bank dalam mengoptimalkan komposisi dana pihak ketiga yang lebih efisien dan berkelanjutan.
"Peningkatan CASA ini memperkuat struktur pendanaan Perseroan serta mendukung efisiensi biaya dana, sehingga kinerja dapat tetap terjaga secara berkelanjutan," ujar Henoch.
Pertumbuhan CASA didorong oleh kontribusi dari segmen korporasi dan komersial, serta usaha kecil dan menengah (UKM), seiring dengan peningkatan aktivitas transaksi dan kepercayaan nasabah terhadap layanan Perseroan.
Penguatan struktur pendanaan tersebut turut didukung oleh kondisi likuiditas dan permodalan yang tetap solid.
SMBC Indonesia menjaga rasio likuiditas dan pendanaan pada tingkat yang sehat dengan liquidity coverage ratio (LCR) sebesar 260,24 persen, net stable funding ratio (NSFR) sebesar 122,71 persen, serta capital adequacy ratio (CAR) yang berada di level 29,63 persen.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/ilustrasi-nilai-tukar-rupiah90.jpg)