Harga Saham
IHSG Rawan Merosot Lagi Imbas Anjloknya Nilai Tukar Rupiah
IHSG sebelum libur panjang pekan kemarin, Rabu (13/5/2026), ditutup melemah 1,98% ke level 6.723,32.
Ringkasan Berita:
- IHSG diperkirakan melanjutkan pelemahan seiring rupiah yang sempat menyentuh Rp17.600 per dolar AS.
- Sentimen negatif datang dari lonjakan harga minyak, tensi Timur Tengah, dan keluarnya investor asing dari pasar saham RI.
- Pelaku pasar kini menunggu langkah Bank Indonesia dan keputusan BI-Rate untuk menjaga stabilitas rupiah.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan awal pekan ini, Senin (18/5/2026) rawan mengalami pelemahan lagi seiring anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Diketahui, rupiah sempat merosot sentuh ke level Rp17.600 dan kembali menguat tipis ke posisi Rp17.597 per dolar AS.
Sedangkan, IHSG sebelum libur panjang pekan kemarin, Rabu (13/5/2026), ditutup melemah 1,98 persen ke level 6.723,32.
Baca juga: Ada Rebalancing, IHSG Ditutup Melemah 1,98 Persen ke Level 6.723,32
Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, menyampaikan, bursa AS dan Asia mengalami pelemahan saat bursa di Indonesia libur panjang.
Menurutnya, pasar dihantui kembali kekhawatiran inflasi global, di mana lonjakan harga minyak akibat memanasnya tensi geopolitik Timur Tengah membuat investor beralih dari aset berisiko ke obligasi pemerintah AS.
"Pasar juga khawatir gangguan di Selat Hormuz kembali memburuk dan mengganggu pasokan energi global," paparnya.
Melihat kondisi global dan ditambah pelemahan nilai tukar rupiah, Fanny memperkirakan pergerakan IHSG hari ini bergerak pada rentang support 6.500-6.600 dan resistance 6.780-6.850.
"IHSG kemungkinan melanjutkan koreksi seiring dengan pelemahan rupiah," ucapnya.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta, menyampaikan, pasar masih mencerna dampak keluarnya sejumlah saham Indonesia dari MSCI Global Standard maupun Small Cap Index pasca pengumuman MSCI pekan lalu.
"Diperkirakan bahwa foreign outflow (investor asing keluar) masih berlanjut dengan penurunan intensitas dibanding pada saat awal kepanikan," kata Nafan.
Di sisi lain, Nafan melihat, pergerakan nilai tukar rupiah yang masih tertahan di kisaran Rp17.597 per dolar AS tetap menjadi faktor penekan utama bagi volatilitas indeks.
"Para pelaku pasar cenderung mengambil posisi defensif sambil mencermati langkah intervensi BI menjelang pengumuman BI-Rate pada Rabu, 20 Mei 2026. Diperkirakan BI akan menahan BI-Rate pada 4,75?mi menjaga stabilitas rupiah," papar Nafan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/IHSG-Kembali-Melemah-Pada-Penutupan-Perdagangan_20260202_211617.jpg)