Jumat, 15 Mei 2026

Transformasi Sangkar Burung Eank Solo, Manfaatkan Barang Limbah Jadi Berkah

Memanfaatkan limbah jadi berkah, Sangkar Burung Eank Solo bukti UMKM kreatif bisa bersaing dengan wirausaha lainnya

Tayang: | Diperbarui:
Instagram @sangkar_aquarium_paralon
LIMBAH JADI BERKAH - Produk snagkar burung dari limbah pipa bekas dari Eank Solo 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Chrysnha Pradipha

TRIBUNNEWS.COM, SOLO - Nyalanya kelap-kelip, padahal bukan lampu. Apalagi ketika dipajang di bawah terik matahari siang, permukaan sangkar itu memantulkan cahaya dengan kesan mewah.

Bentuknya rapi dengan ukiran melingkar di setiap sisi. Sekilas tampilannya menyerupai barang mahal, padahal benda itu hanya menjadi rumah bagi burung-burung hias peliharaan.

Siapa sangka, bahan utama sangkar tersebut berasal dari pipa bekas yang sebelumnya terbuang begitu saja.

Pipa-pipa yang dianggap limbah itu diolah oleh Eko Alif Muryanto menjadi sangkar burung dengan tampilan berbeda dari kebanyakan produk di pasaran.

Bukan hanya soal tampilan, Eko juga mengklaim sangkar berbahan paralon buatannya lebih kuat dan tahan lama dibanding sangkar kayu, bambu, maupun rotan.

“Kalau kena air tidak gampang lapuk. Perawatannya juga lebih mudah,” kata Eko saat ditemui di bengkel kerjanya di Mojosongo, Solo, Minggu (10/5/2026).

Di bengkel sederhana itu, potongan paralon bekas tersusun di sudut ruangan. Sebagian sudah dipotong kecil, sebagian lain menunggu dirangkai menjadi sangkar.

Suara mesin gerinda sesekali terdengar memecah suasana. Di sudut ruangan, beberapa rangka sangkar setengah jadi tampak sedang dalam proses penyelesaian.

Sangkar burung yang dibuat perajin Eko Alif Muryanto asal Kampung Debegan RT 2/III, Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres, Kota Solo.
Sangkar burung yang dibuat perajin Eko Alif Muryanto asal Kampung Debegan RT 2/III, Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres, Kota Solo. (TribunSolo.com)

Berawal dari Tumpukan Limbah

Baca juga: Kain Jumputan Lintang Kejora Eksis Terbang ke Belgia, Menolak Gaptek Kunci Sukses UMKM

Sebelum menekuni usaha sangkar burung, Eko lebih dulu berdagang onderdil mobil di Pasar Klitikan Semanggi.

Dari aktivitasnya itu, ia kerap bertemu pengepul barang bekas dan melihat berbagai limbah yang masih bisa dimanfaatkan.

Salah satunya tumpukan pipa paralon bekas yang kala itu hanya dibiarkan menumpuk.

“Waktu itu saya lihat sayang kalau dibuang begitu saja. Bahannya sebenarnya masih kuat,” ujarnya.

Ide membuat sangkar burung muncul pada 2012. Inspirasi itu datang setelah Eko melihat iklan pipa PVC di televisi.

Dalam iklan tersebut, pipa digambarkan memiliki daya tahan kuat meski diinjak beban berat.

“Saya langsung kepikiran, kalau bahannya sekuat itu kenapa nggak dicoba buat sangkar burung,” katanya sambil tersenyum.

Kebetulan, lingkungan tempat tinggalnya di Mojosongo memang dikenal sebagai sentra pengrajin sangkar berbahan kayu dan bambu.

Namun menurut Eko, bahan konvensional memiliki sejumlah kekurangan.

Ia mengaku sering mendengar keluhan pembeli soal sangkar kayu yang mudah lapuk, lembap, hingga rawan rusak setelah dipakai dalam waktu tertentu.

Dari situ, ia mulai mencoba membuat alternatif sangkar berbahan paralon bekas.

Pemilik Eank Solo, Eko Alif Muryanto memamerkan sangkar burung berbahan limbah paralon
Pemilik Eank Solo, Eko Alif Muryanto memamerkan sangkar burung berbahan limbah paralon (Tribunnews.com/Chrysnha Pradipha)

Pada awal merintis usaha, Eko mengaku tidak mudah meyakinkan pembeli.

Banyak orang meragukan sangkar berbahan pipa bekas bisa memiliki kualitas bagus.

Bahkan, ada yang menganggap produknya aneh karena berbeda dari sangkar pada umumnya.

“Awalnya banyak yang belum yakin. Karena biasanya sangkar identik dengan bambu atau kayu,” ujarnya.

Meski begitu, Eko tetap mencoba memasarkan produknya secara perlahan.

Ia mulai menawarkan sangkar buatannya ke pasar burung dan komunitas penghobi burung di Solo.

Seiring waktu, pembeli mulai datang kembali setelah mencoba kualitas sangkar buatannya.

Menurut Eko, ketahanan produk menjadi salah satu alasan pelanggan bertahan.

“Kalau bambu kadang cepat rusak atau dimakan rayap. Kalau paralon lebih awet,” katanya.

Perkembangan usahanya mulai terasa setelah bergabung dengan Rumah BUMN Solo pada 2017.

Sebelumnya, pemasaran hanya mengandalkan relasi antar pedagang dan penjualan langsung di pasar.

Melalui pelatihan yang diikutinya, Eko mulai belajar menggunakan media sosial dan marketplace untuk memasarkan produk.

Ia juga mulai memahami cara berkomunikasi dengan calon pembeli dari luar negeri.

“Dulu saya nggak paham soal pemasaran online. Pelan-pelan belajar dari situ,” tuturnya.

Video promosi pertama bahkan dibuat menggunakan fasilitas komputer di Rumah BUMN Solo.

Dari situ, pesanan mulai datang dari luar daerah hingga luar negeri.

Saat ini, sangkar burung buatannya telah dikirim ke sejumlah negara seperti Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam, Taiwan, hingga Belgia.

“Kalau ekspor sendiri mulai sekitar 2018,” ujarnya.

Kini, Eko memproduksi berbagai jenis sangkar dengan ukuran berbeda. Harga jualnya mulai Rp350 ribu hingga Rp2,5 juta tergantung model dan tingkat kerumitan.

Dalam proses produksi, ia juga melibatkan pekerja di sekitar tempat tinggalnya.

Usaha yang dirintis Eko turut membawanya meraih sejumlah penghargaan.

Ia pernah menjadi Juara Program BRIncubator 2018 dan memperoleh Industry Innovation Award 2021 kategori Dampak Lingkungan.

Selain itu, produknya juga pernah tampil dalam program UMKM EXPO(RT) BRILIANPRENEUR untuk UMKM unggulan.

Meski usahanya berkembang, Eko mengaku tetap ingin berbagi pengalaman dengan pelaku UMKM lain.

Ia beberapa kali diundang menjadi pembicara di kampus maupun komunitas usaha untuk berbagi pengalaman seputar pemasaran dan ekspor.

“Kalau ada yang ingin belajar atau tanya soal ekspor biasanya saya bantu sebisa mungkin,” katanya.

Pendampingan Rumah BUMN Solo

lihat fotoSANGKAR BURUNG PIPA - Pemilik sangkar burung Eank Solo, Eko Alif Muryanto (tengah) bersama Koordinator Rumah BUMN Solo dalam sebuah pameran.
SANGKAR BURUNG PIPA - Pemilik sangkar burung Eank Solo, Eko Alif Muryanto (tengah) bersama Koordinator Rumah BUMN Solo dalam sebuah pameran.

Koordinator Rumah BUMN Solo, Condro Rini, mengatakan pendampingan kepada UMKM tidak hanya soal penjualan, tetapi juga membangun kesiapan usaha agar mampu berkembang lebih jauh.

Menurutnya, banyak pelaku UMKM yang memiliki produk bagus, tetapi belum memahami pemasaran digital maupun pengembangan usaha.

“Kami membantu lewat pelatihan, pendampingan, sampai membuka akses jejaring usaha,” kata Condro pada Minggu (10/5/2026).

Hingga kini terdapat sekitar 85.157  UMKM yang terdaftar pada rumahbumn.id.

Dari jumlah tersebut, sekitar 300 UMKM aktif dalam grup komunikasi daring Solo Raya.

Jumlah mitra terus meningkat dari tahun ke tahun, meskipun sempat menurun saat pandemi COVID-19.

Pasca pandemi, muncul banyak UMKM baru dari kalangan produktif, seperti mahasiswa dan lulusan baru.

Kriteria utama untuk menjadi mitra adalah memiliki semangat wirausaha, baik yang sudah punya usaha maupun yang baru ingin memulai.

Rumah BUMN Solo juga berperan dalam peningkatan daya saing dan akses pasar bagi UMKM.

Mereka menggandeng platform digital seperti Shopee dan Tokopedia untuk mendukung pemasaran daring.

Pelatihan yang diberikan mencakup public speaking, konten digital, dan editing video untuk menunjang promosi.

“Dengan pelatihan ini, UMKM bisa tampil beda dan punya ciri khas produk yang kuat,” kata Condro.

Produk mitra binaan juga sering diikutsertakan dalam pameran dan bazar, termasuk saat ada kunjungan direksi BRI atau pejabat kementerian.

Beberapa produk unggulan bahkan sudah berhasil menembus pasar ekspor seperti ke Kanada.

Kolaborasi menjadi prinsip utama dalam kerja Rumah BUMN Solo, sesuai arahan Kementerian BUMN.

Selain itu, Rumah BUMN Solo juga mendukung program tahunan BRI seperti BRI UMKM Ekspor yang mempertemukan pelaku usaha dan calon buyer dari luar negeri.

Tantangan terbesar yang dihadapi adalah membangun kesadaran UMKM tentang pentingnya peningkatan keterampilan usaha.

Condro menilai, pelatihan harus dikemas menarik agar UMKM tertarik belajar dan meningkatkan kapasitas mereka.

“Kami tidak ingin usaha mereka sekadar untung sesaat, tapi bisa bertahan bahkan sampai ke generasi berikutnya,” tambahnya.

Ke depan, Rumah BUMN Solo berkomitmen untuk terus memberikan dukungan berupa ilmu, keterampilan, dan akses jejaring bisnis bagi para UMKM.

Keberadaan Rumah BUMN Solo membawa manfaat bagi ribuan UMKM, juga menjadi rumah kedua para pelaku usahanya.

Di antaranya yang berhasil mengembangkan sayap adalah UMKM Lintang Kejora milik Rina Sulistyaningsih asar Kampung Baru hingga Sangkar Burung Eank Solo milik Eko Allif Muryanto asal Mojosongo yang telah mengirim produknya hingga ke Belgia.

Masih banyak lagi UMKM binaan Rumah BUMN Solo yang telah mandiri dan menjadi inspirasi UMKM lainnya di Solo Raya.

Peran Rumah BUMN Solo untuk peningkatan kualitas UMKM
UMKM BINAAN - Peran Rumah BUMN Solo untuk peningkatan kualitas UMKM

(*)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved