Minggu, 3 Mei 2026

Harga Saham

Pergerakan IHSG Besok Diprediksi Lanjut Melemah, Rupiah dan Geopolitik Jadi Beban

Pelemahan rupiah jadi faktor utama, berisiko memicu capital outflow dan menekan sentimen investor.

Tayang:
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
IHSG - Pengunjung mengamati layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta. IHSG pada Kamis (30/4/2026) sebelum libur nasional Hari Buruh, ditutup anjlok 2,03% ke level 6.956,80. 

Ringkasan Berita:
  • IHSG diprediksi bergerak sideways cenderung melemah, dipicu penguatan dolar AS, konflik Timur Tengah, dan tekanan harga minyak.
  • Pelemahan rupiah jadi faktor utama, berisiko memicu capital outflow dan menekan sentimen investor.
  • Secara teknikal, IHSG berada di fase downtrend dengan support sekitar 6.838–7.000 dan resistance 7.022–7.160.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Senin (4/5/2026) diprediksi melanjutkan pelemahan.

Tercatat, IHSG pada Kamis (30/4/2026) sebelum libur nasional Hari Buruh, ditutup anjlok 2,03 persen ke level 6.956,80.

Analis BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda mengatakan, risiko pelemahan masih terbuka selama belum ada perubahan signifikan dari sentimen eksternal, khususnya stabilisasi nilai tukar dan meredanya tensi geopolitik.

Baca juga: IHSG Ambruk 2,03 Persen ke Level 6.956, Saham Dian Swastatika Sentosa Anjlok 6 Persen

Menurutnya, penguatan dolar Amerika Serikat (AS) yang mencerminkan meningkatnya preferensi terhadap aset safe haven, kenaikan harga minyak dunia akibat konflik di Timur Tengah, serta dinamika arus dana global turut menjadi faktor yang mempengaruhi pergerakan IHSG.

“Secara keseluruhan, pergerakan nilai tukar rupiah diperkirakan masih menjadi variabel paling dominan dalam menentukan arah IHSG dalam jangka pendek,” ujar Reza dikutip dari Kontan, Sabtu (3/4/2026).

Diketahui, nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Kamis (30/4/2026), melemah 20 poin atau 0,12 persen menjadi 17.346 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level 17.326 per dolar AS.

Reza menyebut, tren depresiasi nilai tukar rupiah menjadi faktor utama yang membayangi pergerakan pasar, mengingat dampaknya yang signifikan terhadap arus keluar dana asing (capital outflow) serta persepsi risiko investor global terhadap aset domestik. 

Selain itu, pelaku pasar juga mencermati rilis sejumlah data ekonomi, antara lain S&P Manufacturing PMI, neraca perdagangan, inflasi, serta pertumbuhan ekonomi (GDP), sehingga akan menjadi indikator arah kebijakan dan stabilitas makroekonomi Indonesia.

Di samping itu, sentimen dari rilis kinerja emiten dan pembagian dividen dinilai hanya memberikan dorongan terbatas bagi IHSG dalam jangka pendek dan belum cukup kuat untuk menopang tren penguatan secara berkelanjutan.

Secara teknikal, Reza memperkirakan IHSG akan bergerak dengan support di kisaran 6.920—7.000 dan resistance di kisaran 7.100—7.160 pada Senin nanti.

Reza menyebut ada beberapa saham yang layak dipertimbangkan oleh investor pada esok hari. 

Di antaranya adalah BNBR dengan rekomendasi beli di kisaran Rp 208—Rp 215 per saham dan target harga di kisaran Rp 224—Rp 232 per saham; ITMG direkomendasikan trading buy di kisaran Rp 26.175—Rp 26.650 per saham dan target harga Rp 27.025—Rp 27.625 per saham; serta ADRO dengan rekomendasi trading buy di kisaran Rp 2.480—Rp 2.520 per saham dan target harga Rp 2.560—Rp 2.620 per saham.

Sementara itu, Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana memproyeksikan, IHSG masih berada dalam fase downtrend pada Senin besok yang disertai dengan tingginya tekanan jual. 

IHSG pun diprediksi cenderung terkoreksi dengan area support di level 6.838 dan resistance di level 7.022.

Sumber: Kontan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved