Selasa, 19 Mei 2026

Dari Pengelola Sampah Kini Jadi Penyuplai Dapur MBG

Banyak BUMDesa di Indonesia lahir secara simsalabim; pagi dibentuk, sore keluar SK, tanpa tahu apa yang harus dikerjakan.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Dodi Esvandi
Editor: Sanusi
Tribunnews.com/Dodi Esvandi
Alek Solehudin, Direktur BUMDesa Surya Karya Mandiri, saat ditemui di kantornya di Desa Susukan, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Berkat kinerja dai BUMDesa Surya Karya Mandiri, Desa Susukan berhasil menjadi salah satu pemenang program Desa BRILiaN 2025, yakni Juara 1 di tingkat Regional Office (RO) BRI Jakarta 2 (Region 7). 

Meski Susukan tidak memiliki peternakan ayam, ia mampu menyediakan telur dengan harga yang lebih kompetitif dibanding harga kandang lokal.

"Orang belanja telur masih Rp26.000, saya bisa dapat Rp25.000. Kenapa? Karena kami langganan tetap dan punya akses langsung ke hulu," ungkapnya.

Baca juga: BRI Consumer Expo 2026 Hadirkan Promo KPR, KKB hingga Cashback Investasi

"Kami tidak belanja seperti konsumen biasa. Kami menggunakan hubungan baik dengan importir dan produsen utama. Kami punya kartu member 'Gold' di distributor besar. Jika BUMDesa lain harus membayar tunai di depan kepada agen, kami sudah sampai pada tahap di mana barang dikirim dulu, nota menyusul, baru kami bayar. Itulah kekuatan trust," jelas Alek.

Bahkan, BUMDesa Susukan kini menjadi pemasok bagi BUMDesa-BUMDesa lain di luar wilayahnya, seperti Ciseeng, Citaringgul, dan Cimanggis.

Alek memfasilitasi mereka yang tidak memiliki modal atau akses ke pemasok besar, menciptakan kolaborasi antar-desa yang saling menguntungkan.

"Mereka tinggal pesan lewat kami, barang sampai ke dapur mereka, baru bayar kemudian," ungkapnya.

Membangun "Peta Ekonomi"

Salah satu visi Alek yang paling visioner—dan mungkin dianggap gila oleh sebagian orang—adalah ambisinya membangun Peta Ekonomi Desa.

Alek merasa miris ketika warga desa lebih mengenal merek korporasi besar dibanding potensi tetangganya sendiri.

Maka itu ia ingin setiap jengkal potensi warga, mulai dari tukang servis kipas angin hingga pembuat tempe, terdata secara digital layaknya Google Maps.

"Kalau kipas angin warga rusak, mereka bingung cari tukang servis. Padahal mungkin tetangga sebelah bisa membetulkannya. Saya ingin membuat sistem seperti Google Maps, tapi isinya potensi ekonomi warga. Klik, muncul tukang servis; klik, muncul penjual edamame," tuturnya.

Mengapa data ini penting? Menurut Alek, peta ekonomi ini disiapkan sebagai benteng pertahanan.

Alek melihat ancaman nyata di depan mata: pintu tol yang akan segera dibangun di Susukan.

Alek memprediksi bahwa pembukaan pintu tol di wilayah Bojong Gede dalam waktu dekat akan memicu migrasi besar-besaran.

Jika warga desa tidak siap dengan data dan kekompakan ekonomi, mereka hanya akan menjadi penonton saat korporasi besar masuk.

"Saat tol dibuka, migrasi besar akan terjadi. Kalau warga kita belum kompak, korporasi besar akan masuk dan kita hanya jadi penonton atau pembantu di rumah sendiri. Peta ekonomi ini adalah benteng," jelasnya.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved