Kamis, 28 Mei 2026

Meraup Berkah dari Bawang Goreng, Saryati Sulap Hasil Pertanian Tembus Swalayan

Berawal dari ditawari hasil pertanian, Saryati bisa mengembangkan usaha bawang gorengnya hingga bisa dijual di swalayan

Tayang:
Tribunnews.com/Facundo Chrysnha Pradipha
PRODUK BAWANG GORENG - Aneka produk olahan bawang goreng milik Saryati di SW Brambang Goreng Jawa. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Chrysnha Pradipha

TRIBUNNEWS.COM, KARANGANYAR - Bagaimana harumnya ketika sepiring potongan bawang merah segar diceburkan ke dalam wajan berisi minyak goreng panas?

"Sreeeng," terdengar seru bunyi gorengan, tapi masih kalah dengan bau khas bawang goreng.

Baunya harum, kuat dan menggugah selera. Gurih meski belum dicicipi.

Begitu kira-kira menggambarkan suasana rumah Saryati, pelaku UMKM produksi bawang goreng bernama SW Brambang Goreng Jawa di Colomadu, bagian terluar dari wilayah Kabupaten Karanganyar.

Terluar karena memang wilayah Colomadu terpisah dengan wilayah Kabupaten Karanganyar. Jika ingin ke Colomadu dari Karanganyar, harus melewati Kota Surakarta ataiu Solo dulu, dan juga sebaliknya.

Singkatnya, faktor historis membuat Colomadu merupakan bagian dari Karanganyar. Satu di antaranya adalah sejarah berdirinya Pabrik Gula Colomadu pada tahun 1861, kawasan ini merupakan basis penting bagi kekuasaan Pura Mangkunegaran yang secara historis memiliki kaitan erat dengan Karanganyar. 

Kembali ke kisah Saryati dan bawang gorengnya, adalah dua hal yang tak terpisahkan seperti Colomadu dan Karanganyar.

Bagi sebagian orang, bawang goreng mungkin hanya pelengkap makanan. Namun bagi Saryati, bawang goreng menjadi jalan panjang yang perlahan mengubah usaha rumahan kecilnya bertahan hingga sekarang.

Ia tidak pernah membayangkan menekuni usaha bawang goreng karena kesempatan itu datang secara tidak sengaja.

Baca juga: Camilan Emping Melinjo Koncone Ngemil, UMKM Asal Solo Tumbuh dari Masa Sulit

Seorang teman suaminya yang memiliki lahan pertanian bawang merah sempat memberinya hasil panen untuk dibawa pulang.

Awalnya bawang tersebut hanya dipakai untuk kebutuhan dapur sendiri. Sampai kemudian pada musim panen berikutnya, Saryati ditawari membeli bawang merah langsung dari petani dengan harga murah.

Saryati mencoba mengambil sedikit demi sedikit, mulai dari lima hingga sepuluh kilogram. Namun saat itu ia hanya menjual bawang mentah kepada tetangga sekitar rumah.

Tak disangkanya, penjualan ternyata berjalan lambat.

“Kalau ibu-ibu beli setengah kilo atau sekilo itu sudah buat stok lama. Jadi muternya lama sekali,” katanya, Minggu (17/5/2026).

Sesuai Minatmu
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved