Gandeng 10 Arsitek Muda, PALOMA Perkenalkan Konsep “Ruang Jeda” di ARCH:ID 2026
PALOMA hadir membawa pengalaman berbeda lewat kolaborasi bersama 10 arsitek muda Indonesia dalam event ARCH:ID 2026.
TRIBUNNEWS.COM - ARCH:ID 2026 kembali menjadi salah satu event arsitektur terbesar yang mencuri perhatian para pelaku industri kreatif, desainer, hingga pecinta desain rumah modern. Digelar pada 23-26 April 2026 di ICE BSD City, Tangerang, acara ini merupakan forum arsitektur tahunan yang diselenggarakan oleh Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) bersama CIS Exhibition.

Tahun ini, ARCH:ID mengusung tema “Synthesis Scheme: Architecture of Engagement” yang menyoroti pentingnya kolaborasi dalam dunia arsitektur modern. Tidak hanya menghadirkan pameran desain dan material bangunan, event ini juga menjadi ruang bertukar ide antara arsitek, brand, dan masyarakat luas.
Di tengah ramainya gelaran tersebut, PALOMA hadir membawa pengalaman berbeda lewat kolaborasi bersama 10 arsitek muda Indonesia pada 25 April 2026 pukul 15.00-18.00 WIB.
Sumber: Unggahan Instagram @rabunsenja
PALOMA dan 10 Arsitek Muda Hadirkan Workshop Inspiratif
Bukan sekadar memamerkan produk hardware bangunan, PALOMA menghadirkan instalasi bertajuk “Duamassa” yang digarap bersama Andra Matin (arsitek senior di Indonesia), Artnivora (firma desain grafis), dan PALOMA (brand produk hardware terbaik di Indonesia). Instalasi seluas 300 meter persegi itu dirancang menjadi pengalaman ruang yang imersif sekaligus menenangkan bagi pengunjung.
Konsep “Duamassa” diwujudkan melalui dua massa bangunan dengan karakter spasial yang berbeda, namun saling melengkapi. Massa pertama yang padat dan terstruktur merepresentasikan koleksi produk lock PALOMA. Area ini dibuat dengan struktur yang tegas, presisi, dan kuat untuk menonjolkan fungsi mekanis yang aman serta dapat diandalkan.
Sementara massa kedua tampil lebih cair dan terbuka untuk merepresentasikan lini sanitary PALOMA. Area ini dirancang lebih menyatu dengan alam lewat elemen sunken area (area duduk yang dikelilingi air), dedaunan, hingga pencahayaan alami atau void. Suasana tersebut menghadirkan kesan tenang dan nyaman di tengah area pameran.
Lewat konsep ini, PALOMA tidak hanya menampilkan produk, tetapi juga menghadirkan pengalaman ruang yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Pengunjung diajak menikmati detail tekstur material, suara air, hingga suasana yang mendukung konsep slow living di tengah hiruk-pikuk pameran.
Filosofi rumah juga menjadi inspirasi utama dari desain instalasi ini. Melalui konsep dualitas, “Duamassa” menggambarkan bagaimana sebuah keteraturan dan keterbukaan, kekuatan, dan ketenangan untuk hunian yang menginspirasi.
Selain menghadirkan instalasi yang imersif dan penuh eksplorasi ruang, PALOMA juga menggandeng 10 arsitek muda untuk membagikan perspektif mereka tentang desain rumah modern yang nyaman serta relevan dengan kebutuhan dan gaya hidup masa kini.
Arsitek yang terlibat berasal dari berbagai studio seperti arti design studio, Bun&Lau, FFFAAARRR, Isso, K-Thengono Design Studio, MIV Architects, Office SA, Spatial Sonata, STUDIO TALK, hingga [terasu].
Baca juga: PALOMA Hadirkan Digital Lock 6200 Series dengan Teknologi Palmprint Recognition
Manager Marketing PALOMA, Erika Safira, mengatakan kolaborasi ini memang dirancang untuk menghadirkan pengalaman yang lebih dekat dan relatable bagi pengunjung.
“Kami ingin memberikan pengalaman nyata kepada para pengunjung untuk pameran arsitektur yang berkesan. Kolaborasi bersama 10 arsitek bukanlah agenda selingan semata. Namun, kami ingin mempertunjukkan sebuah referensi fungsional yang akan amat sangat berguna kepada para pengunjung, dan itu dijabarkan langsung oleh para ahlinya,” ujar Erika Safira.

Lewat sesi workshop dan diskusi yang berlangsung santai, para arsitek membahas berbagai aspek penting dalam rumah modern, mulai dari pemanfaatan ruang, pemilihan material, sirkulasi udara, hingga pencahayaan alami. Tak hanya soal estetika, mereka juga menyoroti bagaimana desain bangunan dapat menciptakan rasa nyaman bagi penghuni di tengah padatnya aktivitas sehari-hari.
Interaksi bersama pengunjung pun berlangsung cukup hangat di area booth PALOMA. Setiap arsitek membagikan pendekatan desain khas mereka, mulai dari hubungan antara interior dan arsitektur, eksplorasi material dan tekstur, sampai pentingnya menghadirkan ruang di dalam rumah yang bisa menjadi tempat untuk beristirahat sejenak dari rutinitas harian.
“Ruang Jeda” Jadi Referensi Penting untuk Rumah Modern
Salah satu topik yang cukup menarik perhatian datang dari Artiandi A (Office SA) yang membahas pentingnya menghadirkan “ruang jeda” dalam hunian modern.
“Ruang jeda itu dibutuhkan ketika memang ada noise atau misalnya ada pressure. Saya melihat ruang jeda itu sesimpel ketika kita melihat ke atas dan ada area kosong, itu saja sebenarnya sudah bisa menjadi jawaban,” ujar Artiandi.
Ia juga mengibaratkan beberapa elemen ruang seperti bukaan dan aliran sirkulasi sebagai bentuk pengalihan atau “divert” pikiran dari tekanan sehari-hari.
“Ada beberapa elemen yang seperti unlocking dan diverter. Itu modern invention yang menarik banget. Jadi kayak analogi juga, kalau ingin punya jeda, ya pikirannya perlu dialihkan dulu,” lanjutnya.
Konsep “ruang jeda” ini dinilai semakin relevan, terutama untuk rumah-rumah modern di kawasan urban yang identik dengan keterbatasan ruang dan aktivitas padat.
Beberapa arsitek juga membagikan pendekatan desain mereka saat mempresentasikan hasil workshop. Studio FFFAAARRR, misalnya, dikenal menghadirkan pendekatan desain yang lebih eksperimental dengan memadukan unsur ruang budaya, material ekspos, dan pengalaman ruang yang fleksibel.
Sementara Spatial Sonata mengusung konsep “Interiority”, yaitu melihat interior dan arsitektur sebagai satu kesatuan yang saling terhubung.
Adapula K-Thengono Design Studio yang mempertegas karakternya pada agenda ini, yakni menampilkan respons yang mendalam terhadap faktor kontekstual dan makna ruang jeda itu sendiri. Tentunya, pendekatan tersebut juga ditampilkan dengan sentuhan modern nan ‘berani’ ala Kelvin Thengono.
Pendekatan menarik lainnya datang dari studio Isso yang didirikan Wibisono Soegih dan Stephanie Tatimu pada 2017. Studio arsitektur asal Jakarta/Tangerang ini dikenal fokus pada desain hunian, co-housing, hingga perhotelan dengan pendekatan yang menekankan detail ruang seperti udara, pencahayaan, tekstur, dan skala yang terasa lebih ramah bagi manusia.
Ciri khas desain mereka terlihat dari penggunaan motif setengah lingkaran atau half-moon yang kerap muncul di fasad, interior, hingga furnitur pada sejumlah proyek mereka.
Filosofi “arsitektur dimulai dari lingkungan kehidupan sehari-hari” yang diusung studio Isso kemudian bisa menjadi rekomendasi desain rumah modern yang lebih nyaman dan mindful untuk ditinggali.
Misalnya dengan menghadirkan area transisi yang tidak terasa sempit, memaksimalkan pencahayaan alami, menciptakan ruang dengan ventilasi yang baik, hingga menyediakan sudut kecil untuk beristirahat sejenak dari aktivitas harian.
Bagi hunian modern dengan lahan terbatas sekalipun, konsep ruang jeda tetap bisa diwujudkan melalui elemen sederhana seperti area duduk dekat jendela, void kecil untuk masuknya cahaya alami, hingga penggunaan material dan tekstur yang memberi kesan hangat dan tenang.
Lewat kolaborasi ini, PALOMA tidak hanya menghadirkan instalasi arsitektur yang menarik secara visual, tetapi juga membuka ruang diskusi tentang bagaimana sebuah rumah modern seharusnya mampu menjawab kebutuhan penghuninya secara lebih personal.
Mulai dari kenyamanan, ketenangan, hingga kehadiran “ruang jeda” yang sederhana, seluruh pendekatan tersebut menunjukkan bahwa desain rumah masa kini bukan hanya soal estetika, tetapi juga tentang menciptakan kualitas hidup yang lebih baik bagi penghuninya.
Baca juga: UPDATE, PALOMA Luncurkan Smart Floor Drain Dengan Basket Strainer Pertama di Indonesia!
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Paloma-Event-bersama-Arsitek-Muda.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.