Selasa, 2 Juni 2026

Neraca Dagang RI Surplus 72 Bulan Beruntun, Tembus 5,64 Miliar Dolar AS di April 2026

Nilai impor pada periode yang sama tercatat 86,51 miliar dolar AS, meningkat 13,40 persen dibandingkan Januari sampai April 2025.

Tayang:
Financial Times
PERDAGANGAN RI - Komoditas dengan surplus terbesar adalah lemak dan minyak hewani atau nabati (HS 15) dengan surplus 11,71 miliar dolar AS. 
Ringkasan Berita:
  • BPS melaporkan neraca perdagangan Indonesia surplus 5,64 miliar dolar AS pada Januari-April 2026, sekaligus memperpanjang tren surplus menjadi 72 bulan berturut-turut.
  • Nilai ekspor mencapai 92,15 miliar dolar AS atau naik 5,48 persen, sedangkan impor sebesar 86,51 miliar dolar AS atau meningkat 13,40 persen.
  • Surplus terbesar berasal dari sektor nonmigas sebesar 14,16 miliar dolar AS, terutama ditopang lemak dan minyak nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan barang Indonesia masih mencatat surplus hingga April 2026.

Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS Pudji Ismartini mengatakan, surplus neraca perdagangan periode Januari sampai April 2026 mencapai 5,64 miliar dolar AS.

"Dengan capaian ini, maka neraca perdagangan barang Indonesia mengalami surplus selama 72 bulan berturut-turut," tutur Pudji dalam Rilis BPS, Selasa (2/6/2026).

Baca juga: BPS: Inflasi Indonesia Mei 2026 Mencapai 3,08 Persen, Harga Pangan Jadi Pemicu Utama

BPS mencatat nilai ekspor Indonesia sepanjang Januari hingga April 2026 mencapai 92,15 miliar dolar AS naik 5,48 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar 87,36 miliar dolar AS.

Sementara itu, nilai impor pada periode yang sama tercatat 86,51 miliar dolar AS, meningkat 13,40 persen dibandingkan Januari sampai April 2025.

Menurut BPS, surplus perdagangan hingga April 2026 terutama berasal dari sektor nonmigas yang mencatat surplus sebesar 14,16 miliar dolar AS.

Di sisi lain, perdagangan komoditas migas masih mengalami defisit sebesar 8,52 miliar dolar AS.

"Komoditas penyumbang surplus dan juga penyumbang defisit non migas terbesar pada periode Januari hingga April 2026," tegas Pudji.

BPS mencatat sejumlah komoditas menjadi penyumbang utama surplus perdagangan nonmigas selama Januari–April 2026.

Komoditas dengan surplus terbesar adalah lemak dan minyak hewani atau nabati (HS 15) dengan surplus 11,71 miliar dolar AS.

Bahan bakar mineral (HS 27) dengan surplus 8,34 miliar dolar AS, besi dan baja (HS 72) dengan surplus 5,71 miliar dolar AS.

Ketiga kelompok komoditas tersebut menjadi motor utama yang menopang surplus perdagangan Indonesia pada awal tahun ini.

Di sisi lain, Indonesia masih mencatat defisit pada sejumlah komoditas impor utama. Defisit terbesar berasal dari mesin dan peralatan mekanis (HS 84) sebesar 9,87 miliar dolar AS.

Mesin dan perlengkapan elektrik (HS 85) sebesar 4,95 miliar dolar AS, plastik dan barang dari plastik (HS 39) sebesar 2,80 miliar dolar AS.
  
 

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved