Breaking News:

Virus Corona

Menristek Sebut Riset dan Inovasi Berkembang Lebih Cepat Saat Pandemi Covid-19

Menteri Riset dan Teknologi (Menristek), Bambang Brodjonegoro mengatakan riset dan teknologi lebih berkembang saat pandemi virus corona atau Covid-19.

TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Menteri Riset dan Teknologi / Kepala Badan Riset Teknologi Inovasi Nasional (BRIN) Bambang Brodjonegoro. 

Laporan Wartawan Tribunnews, Larasati Dyah Utami

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Menteri Riset dan Teknologi (Menristek), Bambang Brodjonegoro mengatakan riset dan teknologi lebih berkembang saat pandemi virus corona atau Covid-19.

Ia mengatakan kolaborasi dalam pengembangan riset lebih mudah terwujud secara cepat pada saat pandemi Covid-19.

“Kami melihat di masa pandemi ini penggunaan riset dan promosi dari inovasi menjadi berkembang dengan cepat,” kata Bambang Brodjonegoro dalam diskusi yang diselenggarakan Kemenristek Dikti secara online, Senin (22/6/2020).

Dalam penanggulangan Covid-19, Indonesia sangat membutuhkan pengetahuan dan inovasi untuk mewarnai kebijakan dan menjadi dasar dalam pembuatan kebijakan publik.

Baca: Tjahjo Kumolo Minta Instansi dan Pemda Percepat Penyederhanaan Birokrasi

Ekosistem pengetahuan maupun inovasi membutuhkan kapasitas negara (state capacity) untuk menggerakan semua kekuatannya.

Kapasitas negara ini tercermin dari kapasitas kelembagaan (institutional capacity) dan kapasitas SDM ASN-nya (civil service capacity) yang kinerjanya terlihat dari tingkat efisiensi dan efektivitas proses serta tata kelola pemerintahannya.

“Ketika masuk Indonesia pada awal Maret, inisiatif kita membentuk konsorsium riset dan inovasi khusus untuk penanganan Covid-19, dimana keanggotaannya saat itu intinya disisi penelitiannya,” ujar Bambang.

Baca: Rekomendasi 4 Ayam Penyet di Surabaya, Ada yang Buka Cabang di Berbagai Kota

Selama masa pandemi, Kemenristek mengembangkan inovasi teknologi untuk merespon pandemi ke dalam 4 program atau kelompok inovasi teknologi .

Kolaborasi tersebut terdiri dari unsur peneliti, akademisi, dunia usaha/industri, pemerintah, maupun masyarakat atau sektor pengguna seperti Rumah Sakit, tim medis dan sebagainya .

“Yang terlibat saat itu LIPI, BPPT dan perguruan tinggi yang sudah punya reputasi di bidang kedokteran, sosial dan kemasyarakatan, farmasi dan biologi, ada unsur pemerintah dan masyarakat juga,” katanya.

Dari kolaborasi tersebut terciptalah 4 program atau kelompok inovasi teknologi dari Tim Konsorsium Riset dan Inovasi, di antaranya unsur pencegahan, unsur obat terapi, unsur skrining dan diagnosis, serta unsur alat kesehatan dan pendukung.

Baca: Kabid SMP Disdik Kabupaten Bandung Terbukti Lakukan Pungli Rp 52 Juta, Ancam Mutasi Kepala Sekolah

“Obat dan terapi, beberapanya sekarang menjadi terapi alternatif yang ternyata bisa menyelamatkan pasien Covid, terutama untuk plasma darah dan juga stem cell. Sudah terbukti di beberapa Rumah Sakit, yang pada awalnya pasiennya sakit parah karena Covid akhirnya bisa sembuh. Ini adalah hasil kerja keras dari tim riset maupun staf,” ujarnya

Ada pula dari riset Kemenristek yang berupa skrining dan diagnosis. Bambang mengungkapkan kenaikan jumlah pasien Covid-19 yang mencapai ribuan dalam beberapa hari belakangan di Indonesia, salah satunya disebabkan adanya tes massal yang dilakukan pemerintah.

“Dengan tes secara massif, yang pertama dilakukan dengan Rapid test, kemudian dilanjutkan dengan PCR tes, maka pergerakan dari virus makin terdeteksi agar tidak menyebar di kemudian hari,” katanya.

Penulis: Larasati Dyah Utami
Editor: Adi Suhendi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved