Kamis, 7 Mei 2026

Efikasi Tinggi pada Vaksin Belum Tentu Lebih Baik, Antibodi Alami Menentukan

Keamanannya pasti sudah teruji karena bila tidak aman, tidak akan masuk uji klinis ke fase berikutnya

Tayang:
Editor: Eko Sutriyanto
TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN
Petugas kesehatan Puskesmas dibantu petugas kepolisian mengambil Vaksin Covid-19 Sinovac saat didistribusikan di Instalasi Farmasi Dinas Kesehatan Kota Bandung, Jalan Supratman, Jawa Barat, Rabu (13/1/2021). Dinas Kesehatan Kota Bandung mendistribusikan 25 ribu dosis vaksin Covid-19 Sinovac ke 80 puskesmas, 34 rumah sakit serta klinik-klinik di Kota Bandung untuk kebutuhan vaksinasi tahap pertama bagi tenaga kesehatan. (TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN) *** Local Caption *** Pendistribusian Vaksin Covid-19 Sinovac di Instalasi Farmasi Kota Bandung 

Pemilihan jenis vaksin tersebut atas pertimbangan efikasi, cost, dan ketersediaan di dunia.

Baca juga: Sebagai Ikhtiar, Hengky Kurniawan Sebut Keluarganya Siap Ikut Vaksinasi Covid-19

“Syarat WHO, efikasi vaksin 50 persen bukan berarti 65,3 persen jelek, itu sudah memenuhi syarat.

Dengan uji keamanan dilakukan juga  di Turki, Brazil,” katanya.

Selain itu Sinovac ini juga sudah berpengalaman mengembangkan virus, penyimpanannya mudah hanya perlu suhu 2-8 derajat celcius atau suhu kulkas.

Di mana lebih mudah dibuat distribusinya mengingat kondisi Indonesia dengan penduduk 269 juta dan negara kepulauan.

Tiga Bulan Masih Tinggi

Setiap orang yang divaksin butuh dua dosis.

Suntikan pertama (0 hari) lalu disuntikan lagi pada hari ke 14.

Cara kerjanya menurut dokter Indra, suntikan pertama, tubuh akan mengenali dan membentuk antibody.

Divaksinasi kedua untuk menguatkan.

Sejak vaksinasi pertama sudah tinggi antibodinya bahkan sudah mencapai 90 persen.

Ketika dilakukan pengulangan vaksinasi kedua, dalam 3 bulan pertama masih  mencapai 99 persen. Masih optimal sebagai pencegahan penularan Covid-19.

Baca juga: Surabaya Dinilai Bisa Berakhir Jadi Wuhan karena Warga Tak Patuh Protokol Kesehatan Cegah Covid19

“Vaksin ini kan masih terus diteliti, bisa 6 bulan atau 1 tahun masih terus dipantau. Apakah bisa seperti vaksin influenza yang masih tinggi selama setahun atau bagaimana, masih dipantau,” katanya.

Namun kekhawatiran terjadinya mutasi virus dan mempengaruhi vaksin, sejauh ini, mutasi hanya terjadi di  bagian protein S (bagian tanduk virus) bukan di inti protein virus sehingga sejauh ini vaksin yang ada masih bisa digunakan walaupun dengan  virus yang bermutasi.

Dokter Indra menyebutkan, efek samping dari data Sinovac kejadian berat hanya 0,1-1 persen dari kejadian.

Sumber: Warta Kota
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved